kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #17

Sebulan Kemudian


Kepulangan Laras disambut hangat oleh ibunya, tetapi dunia di luar rumah justru sibuk membicarakan kehidupannya.


Ada yang menganggap Laras menikah dengan Theo karena ingin membalas dendam kepada Arya. Ada yang menyebutnya perempuan impulsif. Bahkan, beberapa orang mulai mempertanyakan apakah pernikahan mereka benar-benar serius.


Laras memilih tidak meladeni gosip.


Selama sebulan, ia dan Theo menjalani kehidupan bersama, belajar mengenal kebiasaan masing-masing, dan mempersiapkan masa depan.


Lalu, sebuah keputusan dibuat.


Mereka akan menyebarkan undangan pernikahan resmi di Jakarta.


Bukan untuk membungkam gosip, melainkan untuk merayakan pilihan yang mereka buat dengan sadar.


Dan ketika undangan itu sampai kepada Arya, barulah ia memahami bahwa Laras benar-benar telah melangkah pergi.


***


Begitu mobil Theo berhenti di depan rumah, Laras langsung melihat ibunya berdiri di teras.


Perempuan itu mengenakan pakaian rumahan sederhana, dengan senyum yang sejak tadi ditahan-tahannya.


Laras membuka pintu mobil dan bergegas menghampiri.


“Bu!”


Ibunya merentangkan tangan.


Laras memeluknya erat, seperti anak kecil yang baru pulang dari perjalanan panjang.


“Ya ampun, Nak. Akhirnya pulang juga.”


Laras tertawa kecil di bahu ibunya.


“Ibu kangen, ya?”


“Memangnya Ibu nggak boleh kangen anak sendiri?”


“Boleh, dong.”


Ibunya mengusap punggung Laras sebelum memegang kedua bahunya dan mengamatinya dari atas sampai bawah.


“Kamu kelihatan lebih segar.”


“Karena liburan, Bu.”


“Bukan karena ada yang menemani?”


Laras langsung memalingkan wajah.


“IBU!”


Tawa ibunya pecah.


Theo yang baru selesai mengambil koper dari bagasi mendekat dan menyalami ibu Laras dengan sopan.


“Selamat sore, Bu.”


Ibunya tersenyum hangat.


“Selamat sore, Theo. Terima kasih sudah menemani Laras selama di Jogja.”


“Sama-sama, Bu. Saya juga senang bisa pergi bersamanya.”


Ibu Laras memandang mereka bergantian.


Ada cincin di jari Laras. Ada ketenangan yang berbeda di wajah putrinya. Dan ada cara Theo berdiri di samping Laras tanpa berusaha mengambil alih percakapan.


Ia tidak tahu bagaimana masa depan mereka nanti.


Namun, setidaknya hari itu, ia melihat putrinya pulang dengan senyum yang tulus.


“Ayo masuk. Ibu sudah menyiapkan makanan.”


Laras langsung bersorak.


“Masakan Ibu?”


“Iya.”


“Mas, ayo cepat! Kita pulang bukan cuma untuk istirahat, tapi juga untuk makan!”


Theo mengangkat koper sambil menggeleng kecil.


“Sepertinya saya sudah tahu kegiatan favorit istri saya.”


Laras menoleh cepat.


“Istri kamu memang suka makan!”


Ibunya tertawa lagi.


Dan sore itu, rumah yang semula terasa sunyi kembali dipenuhi suara percakapan, aroma masakan, serta tawa yang sudah lama dirindukan.


***


Mereka makan bersama di meja keluarga.


Ibu Laras beberapa kali bertanya tentang perjalanan mereka. Laras bercerita tentang kopi di puncak bukit, ombak yang membasahi pakaiannya, cokelat pedas yang membuatnya kepedasan, dan yoghurt dingin yang akhirnya disukai Theo setelah berkali-kali mengaku rasanya hanya lumayan.


“Jadi Theo memang begitu orangnya?” tanya ibunya sambil tertawa.


“Dingin, Bu. Jawabannya pendek-pendek. Kadang aku bingung dia sedang bercanda atau serius.”


Theo meletakkan sendoknya.


“Kalau saya terlalu banyak bicara, Laras juga akan protes.”


“Karena kamu kalau bicara suka menyebalkan!”


“Tapi kamu tetap menikah dengan saya.”


Laras terdiam.


Ibunya langsung tertawa sampai harus meletakkan gelas.


“Benar juga!”


“Bu, jangan ikut-ikutan!”


Theo tersenyum tipis.


Laras menatapnya dengan pura-pura kesal, tetapi diam-diam ia menikmati suasana itu.


Tidak ada ketegangan.


Tidak ada yang mengharuskannya menjaga setiap perkataan supaya tidak memicu pertengkaran.


Setelah makan, ibunya mengajak Laras duduk berdua di ruang tengah.


Theo memberi mereka waktu dan membantu membereskan beberapa barang.


Ibu Laras menggenggam tangan putrinya.


“Nak, Ibu senang melihatmu bahagia. Tapi Ibu ingin bertanya sesuatu.”


“Apa, Bu?”


“Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu?”


Laras terdiam sejenak.


Ia sudah memperkirakan pertanyaan itu akan datang.


“Iya, Bu. Aku tahu semuanya terjadi cukup cepat. Tapi aku tidak mengambil keputusan ini hanya karena Arya atau karena ingin melupakan masa lalu.”


“Lalu karena apa?”


“Karena aku ingin mengenal Theo dan membangun kehidupan dengannya. Aku tahu kami masih harus belajar. Aku juga tahu pernikahan tidak selalu mudah.”


Laras mengusap tangan ibunya.


“Aku tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan sempurna. Tapi aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan mengabaikan perasaanku sendiri.”


Ibunya memandangnya lama.


Kemudian ia mengangguk.


“Kalau begitu, jaga dirimu dan jaga pernikahanmu. Tapi ingat, menjaga pernikahan bukan berarti kamu harus kehilangan dirimu sendiri.”


Mata Laras menghangat.


“Iya, Bu.”


Ibunya memeluknya sekali lagi.


“Semoga kali ini kamu benar-benar menemukan kebahagiaan yang kamu inginkan.”


Laras memejamkan mata.


Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mengira kebahagiaan berarti berhasil mempertahankan seorang suami.


Sekarang, ia mulai memahami bahwa kebahagiaan juga berarti berani meninggalkan sesuatu yang tidak lagi sehat, lalu membangun kehidupan baru dengan kesadaran penuh.

Lihat selengkapnya