Sebulan setelah menikah siri dengan Theo di Yogyakarta, Laras mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Ia mudah lelah, sering mengantuk, dan beberapa kali merasa mual pada pagi hari.
Awalnya, ia mengira semua itu hanya akibat kelelahan bekerja.
Sampai sebuah alat tes kehamilan mengubah seluruh rencana hidupnya.
Laras hamil.
Perempuan yang dahulu menghabiskan dua puluh tahun dalam pernikahan penuh luka kini membawa kehidupan baru di dalam tubuhnya.
Dan ketika Theo mengetahui kabar itu, lelaki yang biasanya selalu tenang justru terdiam cukup lama.
“Laras,” bisiknya, “aku akan menjadi seorang ayah?”
***
Pagi itu, Laras mematikan alarm ponselnya untuk ketiga kalinya.
Ia masih ingin tidur.
Biasanya, ia cukup mudah bangun pagi untuk bekerja. Namun, beberapa hari terakhir tubuhnya terasa lebih lelah daripada biasanya.
Ia mengira dirinya hanya kurang istirahat.
Setelah memaksakan diri bangkit dari tempat tidur, Laras berjalan menuju kamar mandi. Baru beberapa menit berada di sana, ia mendadak merasa mual.
Ia segera menunduk di depan wastafel.
“Ya ampun…”
Setelah rasa mual itu mereda, Laras membasuh wajahnya dan menatap bayangannya di cermin.
Wajahnya tampak sedikit pucat.
Ia mengingat kembali beberapa hari terakhir. Ia memang lebih mudah mengantuk, selera makannya berubah, dan aroma kopi yang biasanya ia sukai kadang-kadang justru membuat perutnya tidak nyaman.
Laras mengernyit.
“Jangan-jangan…”
Ia segera menghentikan pikirannya sendiri.
Tidak mungkin.
Atau mungkin saja?
Laras mengambil ponselnya dan memeriksa kalender. Ia terdiam ketika menyadari bahwa menstruasinya sudah terlambat.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia belum berani menyimpulkan apa pun. Perubahan siklus menstruasi bisa terjadi karena berbagai alasan, tetapi kemungkinan itu kini memenuhi pikirannya.
Setelah bersiap, ia memutuskan mampir ke apotek sebelum berangkat bekerja.
Ia membeli alat tes kehamilan, memasukkannya ke dalam tas, lalu kembali ke rumah.
Hari itu, ia tidak sanggup memikirkan pekerjaan sebelum memastikan apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
***
Laras berdiri sendirian di kamar mandi.
Alat tes kehamilan berada di tangannya.
Ia sudah membaca petunjuknya dengan teliti, lalu mengikuti instruksi yang tertera pada kemasan. Setelah selesai, ia meletakkan alat tersebut di atas permukaan yang rata dan menunggu sesuai waktu yang dianjurkan.
Dua menit terasa seperti dua jam.
Laras berjalan mondar-mandir.
“Tenang, Laras. Apa pun hasilnya, kamu harus tenang.”
Ia duduk.
Kemudian berdiri lagi.
Akhirnya, ia memberanikan diri melihat hasilnya.
Dua garis.
Laras membeku.
Ia mendekatkan alat itu ke wajahnya, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
Dua garis.
Tangannya mulai gemetar.
“Ya Allah…”
Ia menutup mulut dengan satu tangan.
Air matanya menggenang tanpa diminta.
Hamil.
Ia hamil.
Laras duduk di tepi ranjang sambil memandangi alat tes itu. Berbagai perasaan bercampur dalam dadanya. Ada keterkejutan, kebahagiaan, ketakutan, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa ia jawab.
Ia akan menjadi seorang ibu.
Sekali lagi, hidupnya berubah sebelum ia sempat mempersiapkan diri sepenuhnya.
Namun, kali ini ia tidak sendirian.
Ia mempunyai Theo.
Laras segera mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan suaminya.
*Mas, nanti pulang jangan terlambat, ya. Aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan.*
Balasan Theo datang beberapa menit kemudian.
*Ada masalah?*
Laras tersenyum kecil.
*Tidak tahu. Pokoknya pulang dulu.*
*Laras, kamu membuat saya khawatir.*
Ia tertawa pelan di tengah air matanya.
*Maaf, Mas. Aku baik-baik saja.*
Theo membalas singkat.
*Saya pulang lebih awal.*
Laras meletakkan ponselnya, kemudian kembali memandangi alat tes di tangannya.
Untuk pertama kalinya, ia membayangkan rumahnya dipenuhi suara kecil seorang anak.
Dan bayangan itu membuatnya menangis lagi.
***
Theo pulang lebih awal dari biasanya.
Begitu memasuki rumah, ia langsung mencari Laras.
“Laras?”
“Aku di kamar!”
Theo menemukan istrinya duduk di ranjang. Wajah Laras tampak berbeda. Ada senyum kecil di bibirnya, tetapi matanya terlihat berkaca-kaca.
Theo segera mendekat.
“Ada apa? Kamu sakit?”
Laras menggeleng.
“Tidak.”
“Kalau begitu, kenapa kamu menyuruh saya pulang lebih awal?”
Laras menarik napas panjang.
Ia sudah memikirkan berbagai cara untuk menyampaikan kabar itu, tetapi sekarang semua kalimat yang disusunnya mendadak menghilang.
Akhirnya, ia mengulurkan tangan.
Di telapak tangannya terdapat alat tes kehamilan.
Theo menatap benda itu.
Ia tampak bingung selama beberapa detik.
Kemudian ia melihat dua garis pada alat tersebut.