kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #19

Kabar yang Tak Seharusnya Menjadi Milikmu


Laras sedang belajar menerima kebahagiaan barunya ketika masa lalu kembali mengetuk pintu. Sebuah foto sederhana membuat Arya menyadari bahwa perempuan yang selama ini dia anggap akan selalu menunggunya kini memiliki kehidupan yang sama sekali tidak lagi melibatkan dirinya.


Namun, ketika Arya mengetahui bahwa Laras sedang mengandung anak Theo, kecemburuannya berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: penyesalan yang datang terlambat.


Sementara itu, Theo berjanji akan melindungi ketenangan istrinya. Tetapi Laras tahu, kesempatan kedua bukan berarti masa lalunya akan berhenti mengejarnya.


---


Pagi itu, Laras berdiri di depan cermin kamar tidurnya sambil memperhatikan wajahnya sendiri.


Tidak ada perubahan besar yang terlihat. Perutnya masih rata, wajahnya masih sama, dan tubuhnya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan yang bisa dikenali orang lain.


Namun, ada sesuatu yang berbeda.


Di dalam dirinya, kehidupan baru sedang tumbuh.


Laras meletakkan telapak tangannya di perut, lalu tersenyum kecil.


“Pagi, Nak,” bisiknya. “Kita masih belajar, ya. Mama juga masih belajar jadi ibu.”


“Kalau begitu, Papa juga harus belajar.”


Suara Theo membuat Laras menoleh.


Suaminya berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, sementara satu tangannya memegang dua gelas susu.


Laras mengangkat alis.


“Kamu menguping?”


“Tidak. Aku kebetulan lewat.”


“Kamar kita cuma satu, Theo.”


“Berarti aku kebetulan melewati kamar kita.”


Laras tertawa kecil. “Jawabanmu menyebalkan.”


Theo menghampirinya, menyerahkan segelas susu, lalu mengecup keningnya.


“Minum dulu. Setelah itu sarapan.”


“Aku bukan pasien rumah sakit.”


“Aku tahu.”


“Terus kenapa mengaturku?”


Theo menatapnya datar. “Karena pasien rumah sakit biasanya lebih patuh daripada istriku.”


Laras mencubit lengannya pelan.


Theo hanya tersenyum tipis.


Tidak ada sikap berlebihan dalam perhatiannya. Dia tidak melarang Laras melakukan apa pun, tidak memperlakukannya seolah-olah tubuhnya terbuat dari kaca. Dia hanya berusaha hadir, memastikan Laras tidak harus menghadapi perubahan besar ini sendirian.


Dan bagi Laras, itu lebih berarti daripada seribu janji manis.


***


Siang harinya, persiapan acara pernikahan mereka semakin padat.


Pernikahan siri mereka telah dilakukan di Yogyakarta, tetapi mereka ingin mengadakan perayaan resmi bersama keluarga dan teman-teman di Jakarta. Untuk pencatatan perkawinan, Theo juga sedang mengurus prosedur dan persyaratan yang diperlukan agar semuanya berjalan sesuai hukum.


Laras tidak ingin semuanya dilakukan tergesa-gesa hanya karena kehamilan.


Mereka sudah memilih satu sama lain sebelum mengetahui kabar itu.


Dan dia ingin semua orang memahami hal tersebut.


“Aku mau undangannya sederhana,” kata Laras sambil memperlihatkan desain kepada Theo.


Theo duduk di sebelahnya, memperhatikan layar laptop.


“Bagus.”


“Kamu bahkan belum melihat semuanya.”


“Aku melihat namamu.”


Laras menoleh cepat. “Kamu sengaja, ya?”


“Apa?”


“Bikin aku salah tingkah.”


Theo mendekat sedikit. “Berhasil?”


Laras segera kembali menatap laptop. “Nggak.”


“Wajahmu bilang sebaliknya.”


“Diam, Theo.”


Theo terkekeh pelan.


Namun, senyum Laras perlahan memudar ketika ponselnya bergetar di atas meja.


Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak ingin dilihatnya.


**Arya.**


*Lar, aku perlu bicara denganmu. Tolong jangan abaikan aku.*


Laras menatap pesan itu beberapa detik.


Lalu pesan kedua muncul.


*Aku dengar kalian akan mengadakan pernikahan resmi.*


Pesan ketiga menyusul.


*Apa kamu benar-benar sudah nggak punya perasaan apa pun kepadaku?*


Laras mengembuskan napas.


Dulu, pesan seperti itu mungkin akan membuatnya menghabiskan malam dengan bertanya-tanya apa kesalahannya. Dia akan mencoba memahami Arya, mencari alasan untuk sikapnya, dan berharap laki-laki itu akhirnya memilihnya tanpa ragu.


Sekarang, dia hanya merasa lelah.


Theo melirik layar ponselnya.


“Arya?”


Laras mengangguk.


“Mau kubantu?”


“Tidak perlu.” Laras mengunci layar ponselnya. “Aku bisa mengurus masa laluku sendiri.”


Theo mengangguk tanpa memaksa.


“Baik.”

Lihat selengkapnya