kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #20

Perempuan yang Mengingat Kematian


Selina akhirnya mengucapkan sesuatu yang seharusnya mustahil diketahui siapa pun: kehidupan Laras sebelumnya.


Dia tahu tentang dua puluh tahun pernikahan, pengkhianatan Arya, dan akhir tragis yang seharusnya menjadi penutup kisah Laras.


Namun, Laras memilih menyangkal semuanya.


Di hadapan Selina, dia berpura-pura menganggap perempuan itu delusional. Di hadapan orang lain, dia tetap menjadi Laras yang hanya menolak menikahi Arya karena menemukan indikasi mencurigakan terkait rumah yang dibelinya sendiri.


Hanya Theo yang mengetahui kebenarannya.


Dan ketika Theo mulai menyelidiki Selina, dia menemukan kemungkinan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar seorang perempuan yang terobsesi pada masa lalu.


Bagaimana jika Selina juga mendapatkan kesempatan kedua?


---


Pertemuan yang Seharusnya Tidak Terjadi


Laras sedang memilih bunga untuk dekorasi acara pernikahannya ketika sebuah suara memanggil namanya.


“Laras.”


Dia menoleh.


Selina berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan gaun hitam dengan rambut tergerai. Wajahnya tampak lebih pucat daripada biasanya, tetapi sorot matanya begitu tajam.


Laras mengangkat alis.


“Ada apa?”


“Kita perlu bicara.”


“Kalau soal undangan pernikahan, kamu nggak perlu repot datang langsung. Kalau mau hadir, silakan. Kalau nggak, juga nggak masalah.”


“Aku tidak sedang membicarakan pernikahanmu dengan Theo!”


Beberapa orang di sekitar mereka menoleh.


Laras meletakkan katalog bunga di atas meja.


“Kalau begitu, kecilkan suaramu. Aku nggak mau membuat keributan di sini.”


Selina mendekat.


“Kamu benar-benar tidak ingat?”


Laras menatapnya tanpa ekspresi.


“Ingat apa?”


Selina tertawa pendek. Suaranya terdengar seperti orang yang hampir kehilangan kewarasan.


“Kamu masih berpura-pura?”


“Selina, aku sedang memilih bunga. Kalau kamu ingin membicarakan sesuatu yang masuk akal, aku bisa mendengarkan. Tapi kalau kamu datang hanya untuk berteriak, aku akan pulang.”


“Arya!”


Laras mengerutkan kening.


“Apa hubungannya Arya?”


“Pernikahan kalian! Dua puluh tahun! Kamu pikir aku tidak tahu apa yang terjadi?”


Untuk sesaat, jantung Laras berdegup keras.


Dua puluh tahun.


Dua kata yang selama ini dia simpan rapat-rapat di dalam ingatannya.


Tetapi wajah Laras tidak berubah.


Dia justru memandang Selina dengan iba.


“Dua puluh tahun apa?”


“Kamu menikah dengannya. Kamu hidup bersamanya selama dua puluh tahun. Kamu tahu dia berselingkuh denganku. Kamu tahu semuanya!”


Laras terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas.


“Selina, kamu perlu istirahat.”


Mata Selina membelalak.


“Jangan menganggapku gila!”


“Aku tidak mengatakan kamu gila.”


“Kamu baru saja—”


“Aku bilang kamu perlu istirahat. Kalau kamu merasa pernah mengalami sesuatu yang belum terjadi, mungkin kamu perlu berbicara dengan seseorang yang bisa membantumu memahami perasaanmu.”


Selina gemetar karena marah.


“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan? Kamu menolak Arya karena kamu tahu apa yang akan terjadi!”


Laras mengambil tasnya.


“Aku menolak Arya karena aku tidak ingin menikah dengannya. Itu saja.”


“Bohong!”


Laras berhenti.


Kemudian dia menoleh dengan senyum tipis.


“Kalau kamu sudah tahu jawabannya, untuk apa bertanya?”


Dia meninggalkan Selina di tengah toko bunga.


Namun, di balik langkahnya yang tenang, pikirannya bekerja cepat.


Jadi, kamu juga kembali.


Laras sudah lama menduga ada sesuatu yang aneh pada Selina. Perempuan itu mengetahui terlalu banyak hal, bereaksi terlalu kuat terhadap keputusan Laras, dan seolah-olah memahami bahwa perubahan kecil dalam hidup mereka bisa mengubah segalanya.


Kini, kecurigaan itu mendapat jawabannya.


Selina mengingat kehidupan sebelumnya.


Sama seperti Laras.


Dan itu berarti Laras tidak boleh lengah.


---


Alasan yang Tidak Pernah Berubah


Malamnya, Arya datang menemui Laras.


Laras sedang berada di rumahnya sendiri, memeriksa dokumen kepemilikan properti yang disimpan dalam sebuah map tebal. Rumah itu dibelinya dengan uang hasil kerja dan tabungannya sendiri. Rumah yang dalam kehidupan sebelumnya perlahan berubah menjadi sumber pertengkaran, manipulasi, dan penyesalan.


Dia tidak akan membiarkan sejarah itu terulang.


Bel pintu berbunyi.


Laras membuka pintu dan mendapati Arya berdiri dengan wajah serius.


“Aku perlu bicara.”


“Kamu bisa bicara dari situ.”

Lihat selengkapnya