Selina tidak percaya Laras benar-benar melupakan kehidupan pertama mereka. Untuk membuktikannya, dia mengungkit sebuah kejadian yang seharusnya tidak diketahui siapa pun di kehidupan sekarang.
Laras memilih menyangkal, bahkan ketika setiap kata Selina menghidupkan kembali luka yang selama ini berusaha dia tinggalkan.
Di sisi lain, Theo mulai menyelidiki masa lalu Selina. Namun, temuan pertamanya justru menimbulkan pertanyaan baru.
Jika Laras dan Selina sama-sama terlahir kembali, mengapa mereka mengingat kejadian yang berbeda?
Dan bagaimana jika kesempatan kedua ini ternyata tidak diberikan kepada mereka untuk alasan yang sama?
1. Ujian dari Masa Lalu
Laras sedang duduk di sebuah kafe bersama ibunya ketika pesan dari Selina masuk.
Aku tahu kamu akan datang ke acara pembukaan galeri besok. Kita perlu bicara.
Laras membaca pesan itu sekilas, kemudian meletakkan ponselnya.
Ibunya memperhatikan perubahan ekspresi putrinya.
“Siapa, Nak?”
“Selina.”
Ibunya menghela napas.
“Perempuan itu masih mengganggumu?”
“Sepertinya dia belum selesai dengan urusannya sendiri.”
“Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu menemuinya.”
Laras tersenyum kecil.
“Aku tahu, Bu. Tapi aku juga tidak bisa terus menghindari semua tempat hanya karena dia mungkin ada di sana.”
Ibunya menggenggam tangannya.
“Yang penting, jangan memaksakan diri.”
Laras mengangguk.
Dia tidak takut bertemu Selina. Setidaknya, bukan seperti dahulu.
Yang membuatnya waspada adalah kenyataan bahwa Selina mungkin mengingat setiap detail kehidupan pertama mereka. Jika perempuan itu benar-benar kembali dengan ingatan utuh, dia bisa mengetahui kelemahan yang selama ini Laras sembunyikan.
Namun, Laras tidak akan memberikan kepastian itu kepadanya.
Di kehidupan ini, Selina harus menebak-nebak.
Dan Laras berniat mempertahankannya selama mungkin.
2. Satu Kalimat yang Terlalu Spesifik
Acara pembukaan galeri berlangsung meriah.
Laras datang bersama Theo. Dia mengenakan gaun berwarna krem sederhana, sementara Theo tampil dengan setelan hitam yang membuatnya terlihat semakin berwibawa.
Beberapa tamu menyapa mereka. Ada yang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka, ada pula yang bertanya tentang rencana acara keluarga yang akan segera dilaksanakan.
Laras menjawab semuanya dengan ramah.
Dia sedang berbicara dengan seorang kenalan ketika Selina muncul.
“Kamu terlihat bahagia,” kata Selina.
Laras tersenyum sopan.
“Terima kasih.”
“Pernikahan memang bisa membuat seseorang bahagia. Terutama kalau dia mendapatkan laki-laki yang tepat.”
“Semoga kamu juga menemukan kebahagiaanmu sendiri.”
Senyum Selina menegang.
“Kamu masih suka mengatakan hal-hal seperti itu, ya?”
Laras mengerutkan kening.
“Seperti apa?”
“Seolah-olah kamu tidak tahu apa pun.”
Laras mengembuskan napas pelan.
“Selina, kalau kamu datang hanya untuk menyindirku, aku rasa kita tidak perlu melanjutkan percakapan ini.”
“Aku cuma ingin bertanya sesuatu.”
“Tanyakan saja.”
Selina menatapnya lurus-lurus.
“Apakah kamu masih ingat malam ketika Arya pulang pukul tiga pagi, membawa kue ulang tahun yang sudah rusak karena kehujanan?”
Jantung Laras seolah berhenti sesaat.
Dia ingat malam itu.
Dalam kehidupan pertama, ulang tahunnya yang ketiga puluh dua dirayakan dengan kesunyian. Arya pulang terlambat dengan alasan pekerjaan. Kue yang dibawanya rusak, dan dia bahkan tidak menyadari bahwa Laras telah menunggunya selama berjam-jam.
Bertahun-tahun kemudian, Laras mengetahui bahwa malam itu Arya sebenarnya menghabiskan waktu bersama Selina.
Bagi orang lain, itu mungkin hanya sebuah ulang tahun yang buruk.
Bagi Laras, itu adalah salah satu malam ketika dia mulai menyadari bahwa dirinya telah menjadi pilihan terakhir dalam pernikahannya sendiri.
Tetapi Laras tidak membiarkan ingatan itu terlihat di wajahnya.
Dia malah mengerutkan dahi.
“Ulang tahun siapa?”
Selina membeku.
“Ulang tahunmu.”
“Oh.” Laras tertawa kecil, seolah baru memahami pertanyaan itu. “Aku punya banyak ulang tahun, Selina. Kamu harus lebih spesifik.”
“Jangan bermain-main denganku.”
“Aku tidak sedang bermain-main.”
Selina mendekat, suaranya turun menjadi bisikan.
“Kamu menangis di kamar mandi malam itu. Kamu menelepon ibumu, tetapi kamu tidak jadi bercerita karena takut membuatnya khawatir.”
Darah Laras terasa dingin.
Tidak semua detail itu pernah dia ceritakan kepada siapa pun.
Selina menatapnya penuh kemenangan, menunggu perubahan ekspresi yang tidak kunjung datang.
Laras justru memiringkan kepala.
“Wah, kamu tahu banyak tentang kehidupanku. Kamu punya kamera tersembunyi di rumahku, ya?”
“Laras!”
“Kalau kamu benar-benar tahu sesuatu yang penting, katakan dengan jelas. Jangan datang ke sini dan membuat cerita tentang masa lalu yang tidak pernah kualami.”
Selina menatapnya dengan campuran kemarahan dan ketidakpercayaan.
“Kamu benar-benar akan menyangkal semuanya?”