kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #23

Hari Bahagia, Rahasia Mematikan


Hari yang ditunggu Laras dan Theo akhirnya tiba. Di hadapan keluarga dan orang-orang terdekat, Laras bersiap merayakan pernikahannya tanpa bayang-bayang masa lalu.


Namun, Selina datang membawa rahasia yang diyakininya bisa menghancurkan kebahagiaan Laras. Dia bertekad membuktikan bahwa Laras mengingat kehidupan pertama mereka.


Arya pun hadir, berharap menemukan jawaban yang selama ini disembunyikan Laras.


Tetapi sebuah detail yang diungkapkan Selina justru membuka celah dalam ceritanya sendiri.


Jika mereka benar-benar terlahir kembali, mengapa ingatan mereka berbeda?


Dan siapa sebenarnya yang sedang berbohong?


---


1. Perempuan yang Memilih Dirinya Sendiri


Laras berdiri di depan cermin, memperhatikan pantulan dirinya dalam gaun pengantin berwarna putih gading.


Gaun itu sederhana, dengan potongan elegan dan detail renda pada bagian lengan. Rambutnya disanggul lembut, sementara riasannya dibuat natural.


Tidak ada yang berlebihan.


Namun, bagi Laras, hari itu terasa jauh lebih berarti daripada pesta mewah mana pun yang pernah dia bayangkan.


Hari ini, dia tidak sedang berusaha memenangkan hati seseorang.


Dia sedang merayakan keputusan yang dibuatnya dengan sadar.


Ibunya berdiri di belakangnya, membetulkan sedikit bagian kerudung tipis yang menghiasi rambutnya.


“Cantik sekali anak Ibu.”


Laras tersenyum melalui pantulan cermin.


“Terima kasih, Bu.”


Ibunya memegang kedua bahunya.


“Kamu bahagia?”


Pertanyaan sederhana itu membuat Laras terdiam sejenak.


Dulu, dia mengira kebahagiaan berarti berhasil mempertahankan seseorang, apa pun yang harus dikorbankan. Dia pernah menghabiskan bertahun-tahun mencoba menyelamatkan hubungan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.


Sekarang, dia memahami bahwa kebahagiaan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harga dirinya.


“Iya, Bu. Aku bahagia.”


Ibunya mengecup pipinya.


“Kalau begitu, nikmati hari ini. Jangan pikirkan siapa pun yang tidak datang untuk ikut berbahagia.”


Laras mengangguk.


Dia tahu siapa yang mungkin mencoba merusak ketenangannya.


Tetapi hari ini bukan tentang Arya.


Bukan pula tentang Selina.


Hari ini adalah tentang dirinya dan Theo.


---


2. Pria yang Menunggu di Ujung Lorong


Theo berdiri di depan ruangan tempat acara akan berlangsung.


Setelan hitamnya membuat penampilannya terlihat tegas seperti biasa. Tidak banyak orang yang menyangka bahwa pria yang terkenal dingin itu sesekali bisa begitu cerewet ketika mengingatkan istrinya untuk makan.


Ketika Laras muncul di ujung lorong bersama ibunya, Theo terdiam.


Untuk beberapa detik, dia hanya menatap perempuan itu.


Laras mengangkat alis.


“Kenapa?”


Theo menggeleng pelan.


“Tidak apa-apa.”


“Mas, kamu menatapku seperti melihat hantu.”


“Aku sedang memastikan sesuatu.”


“Apa?”


“Bahwa kamu benar-benar akan berjalan ke sini dan tidak berubah pikiran di tengah jalan.”


Laras tertawa kecil.


“Kalau aku berubah pikiran, aku akan kabur lewat pintu belakang.”


Theo mengulurkan tangan.


“Kalau begitu, aku akan memastikan pintu belakangnya terkunci.”


Laras memukul lengannya pelan, lalu menerima uluran tangannya.


Di hadapan keluarga dan orang-orang terdekat, mereka merayakan pernikahan yang telah mereka putuskan bersama. Pernikahan siri mereka sebelumnya telah menjadi ikatan pribadi dan keagamaan; untuk pencatatan perkawinan secara hukum, mereka tetap akan menyelesaikan persyaratan resmi yang diperlukan.


Mereka tidak ingin terburu-buru hanya demi memenuhi harapan orang lain.


Yang terpenting, mereka ingin membangun rumah tangga dengan kejujuran.


Saat Theo menggenggam tangan Laras di hadapan para tamu, dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar istrinya.


“Aku senang kamu memilihku.”


Laras menatapnya.


“Aku juga senang memilihmu.”


Theo tersenyum tipis.


Dan untuk pertama kalinya, Laras merasa masa depannya tidak lagi seperti lorong panjang yang harus dia lalui sendirian.


---


3. Tamu yang Tidak Diundang oleh Hati


Selina datang menjelang acara makan malam.


Dia mengenakan gaun merah gelap dan membawa senyum yang tampak terlalu sempurna untuk seseorang yang mengaku datang demi memberi selamat.


Arya berjalan beberapa langkah di belakangnya.


Sebenarnya, Arya tidak yakin mengapa dia datang. Dia telah menerima undangan dari kenalan mereka, tetapi keputusannya menghadiri acara itu lebih didorong oleh keinginan untuk melihat Laras sekali lagi.


Mungkin dia berharap menemukan keraguan di wajah perempuan itu.


Mungkin dia ingin melihat bahwa kebahagiaan Laras bersama Theo tidak sesempurna kelihatannya.


Namun, begitu melihat Laras berdiri di samping Theo, Arya menyadari betapa sia-sianya harapan tersebut.


Laras terlihat tenang.


Dia tertawa ketika Theo membisikkan sesuatu. Dia menyapa tamu dengan ramah. Sesekali, tangannya bergerak menyentuh perutnya secara refleks.


Arya memperhatikan gerakan itu.


“Kamu masih memikirkannya?” tanya Selina di sampingnya.


Arya tidak menjawab.


Selina mengikuti arah pandangannya.


“Kamu seharusnya sudah berhenti.”


Arya menoleh tajam.


“Bukankah kamu yang mengatakan bahwa Laras mengingat kehidupan sebelumnya?”


“Aku memang mengatakan itu.”


“Kalau begitu, kenapa kamu terus membuat masalah?”


Selina tersenyum dingin.


“Karena dia berpura-pura tidak tahu apa-apa.”


Arya mengembuskan napas.


“Dan kalaupun dia benar-benar mengingatnya, apa yang ingin kamu lakukan?”

Lihat selengkapnya