kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #24

Kali Ini, Aku Memilih Bahagia


Satu pesan anonim membuka pintu terakhir menuju masa lalu Laras.


Di tengah kebahagiaan yang baru dibangunnya bersama Theo, Laras akhirnya mengetahui bahwa kesempatan keduanya bukan diberikan untuk membalas dendam, melainkan untuk memutus lingkaran luka yang selama ini diwariskan oleh pilihan-pilihan mereka sendiri.


Arya harus menerima bahwa penyesalan tidak memberinya hak untuk mendapatkan Laras kembali. Selina harus menghadapi kenyataan bahwa mengingat masa lalu tidak berarti dia berhak mengendalikan masa depan.


Dan Laras?


Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi bertanya mengapa hidup memberinya kesempatan kedua.


Dia hanya ingin menjalaninya dengan baik.


---


1. Pesan Terakhir


Pesan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Laras.


Jangan percaya semua yang Selina katakan. Dia bukan satu-satunya orang yang mengingat kehidupan sebelumnya.


Theo duduk di samping istrinya, membaca pesan tersebut sekali lagi.


“Kamu ingin membalasnya?” tanyanya.


Laras menggeleng.


“Aku sudah terlalu lama mengejar jawaban tentang masa lalu. Sekarang aku ingin tahu apakah jawaban itu benar-benar akan mengubah hidupku.”


“Menurutmu?”


“Tidak.” Laras meletakkan ponselnya. “Apa pun yang terjadi dahulu, aku tetap harus membuat keputusan sendiri hari ini.”


Theo tersenyum tipis.


“Kalau begitu, kita tidak perlu mengejar pengirimnya.”


Laras menatap suaminya.


“Mas tidak penasaran?”


“Tentu penasaran. Aku hanya tidak mau rasa penasaran kita merusak kehidupan yang sedang kita bangun.”


Laras tertawa kecil.


“Kamu tahu, kadang-kadang aku masih merasa aneh.”


“Aneh bagaimana?”


“Dulu aku mengira kalau aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan mengubah semua orang. Aku akan membuat Arya menyesal, membuat Selina merasakan sakit yang sama, dan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyakitiku lagi.”


Theo mendengarkan dengan tenang.


“Tapi sekarang?”


Laras memandang cincin di jarinya.


“Sekarang aku cuma ingin memastikan bahwa aku tidak menyakiti diriku sendiri lagi dengan bertahan di tempat yang salah.”


Theo menggenggam tangannya.


“Menurutku, itu perubahan yang jauh lebih besar.”


Laras menyandarkan kepala di bahunya.


Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa harus mengetahui setiap jawaban sebelum melangkah ke depan.


Dia sudah menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: kebebasan untuk memilih.


---


2. Kebenaran Selina


Tiga hari kemudian, Selina meminta bertemu dengan Laras.


Laras hampir menolak, tetapi akhirnya menyetujui pertemuan singkat di sebuah kafe yang ramai. Dia tidak datang sendirian; Theo mengantarnya dan menunggu di meja yang tidak jauh dari tempat mereka berbicara.


Selina tampak berbeda.


Tidak ada gaun mencolok atau senyum penuh kemenangan. Wajahnya terlihat lelah, seolah-olah selama beberapa malam terakhir dia tidak bisa tidur dengan tenang.


“Aku ingin meminta maaf,” katanya.


Laras menatapnya tanpa segera menjawab.


“Untuk apa?”


“Untuk semua gangguan yang kulakukan. Untuk unggahan-unggahan itu. Untuk caraku mencoba membuatmu mengakui sesuatu yang tidak ingin kamu ceritakan.”


Laras mengembuskan napas perlahan.


“Kenapa sekarang?”


Selina menunduk.


“Karena aku mulai menyadari bahwa aku tidak bisa terus hidup dengan berusaha mengulang masa lalu.”


Dia mengangkat wajah.


“Aku memang mengingat kehidupan sebelumnya, Laras. Aku ingat kamu menikah dengan Arya. Aku ingat hubungan kami. Aku ingat bagaimana semuanya berakhir dengan buruk.”


Laras tetap diam.


“Tapi semakin aku mencoba mengingatnya, semakin banyak bagian yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah semua ingatanku benar-benar utuh. Aku bahkan tidak bisa memastikan apakah aku mengingat setiap kejadian sebagaimana adanya.”


“Lalu apa yang kamu inginkan dariku?”


Selina terdiam cukup lama.


“Awalnya, aku ingin kamu kehilangan apa yang kamu miliki sekarang. Aku berpikir kalau kamu mendapatkan kesempatan kedua, aku juga berhak mendapatkan akhir yang kuinginkan.”


Laras menatapnya dengan tenang.


“Dan sekarang?”


“Sekarang aku sadar bahwa aku tidak berhak menentukan akhir hidupmu.”


Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.


Laras tidak langsung memaafkan Selina. Luka yang ditinggalkan oleh tindakan seseorang tidak menghilang hanya karena orang itu akhirnya meminta maaf.


Namun, Laras juga tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan memelihara kebencian.


“Aku menerima permintaan maafmu,” katanya akhirnya. “Tapi menerima permintaan maaf bukan berarti kita harus kembali dekat. Aku tetap membutuhkan jarak.”


Selina mengangguk.


“Aku mengerti.”


“Dan aku harap kamu benar-benar berhenti mengganggu kehidupanku.”


“Aku akan berhenti.”


Laras berdiri.


Sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi.


“Selina, kalau memang kita mendapatkan kesempatan kedua, jangan habiskan kesempatan itu hanya untuk mengejar sesuatu yang sudah tidak menjadi milikmu.”


Selina tidak menjawab.


Laras pun meninggalkannya.


Dia tidak tahu apakah Selina benar-benar akan berubah. Dia juga tidak perlu memastikan perubahan itu dengan mengawasi setiap langkah perempuan tersebut.


Untuk pertama kalinya, Laras membiarkan seseorang pergi tanpa merasa bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi pada orang itu selanjutnya.


---

Lihat selengkapnya