Kalibrasi

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #2

Limit Dawes

Dalam dunia optik, ada sebuah ketetapan yang disebut Limit Dawes. Itu adalah rumus matematika sederhana untuk menghitung daya pisah sebuah teleskop—kemampuan lensa atau cermin untuk memisahkan dua titik bintang yang letaknya sangat berdekatan agar tidak terlihat sebagai satu titik buram yang menyatu. Rumusnya adalah 115,8 dibagi dengan diameter bukaan teleskop dalam milimeter.

Untuk teleskop reflektor bekas milik Bumi yang memiliki diameter seratus empat belas milimeter, Limit Dawes-nya berada di angka 1,01 detik busur. Secara teori, alat itu cukup kuat untuk memisahkan bintang ganda seperti Albireo di rasi Cygnus menjadi dua warna yang kontras: biru laut dan kuning madu.

Bumi tahu angka-angka itu di luar kepala. Masalahnya malam ini bukan pada cermin primer atau lensa okuler teleskopnya. Masalahnya ada pada mata kanannya.

"Kak, fokusnya jangan diubah lagi. Tadi pas aku lihat sudah pas banget," gerutu Danu dari arah belakang. Adik laki-lakinya itu sedang duduk di atas peti kayu bekas wadah perkakas, sibuk mengunyah pisang goreng yang kulit tepungnya sudah agak alot.

Bumi tidak menjawab. Dia mengedipkan mata kanan berulang kali, mencoba mengusir lapisan tipis seperti kabut yang mendadak hinggap di tengah pandangannya. Di dalam eyepiece 10mm, bintang Albireo malam ini tidak memisah. Titik kuning dan titik biru itu justru meleleh, berbaur menjadi satu gumpalan warna hijau keruh yang tidak punya tepi tajam.

Bumi menarik wajahnya menjauh dari teleskop. Dia beralih menggunakan mata kirinya yang masih berfungsi lebih baik, lalu mengintip kembali. Dua titik bintang itu langsung terpisah dengan jelas. Sempurna. Sesuai hukum Limit Dawes.

"Kenapa? Rusak lagi kenopnya?" Danu bangkit, mendekati tripod dengan langkah berat yang membuat papan jemuran di sudut balkon sedikit bergetar.

"Tidak. Hanya ada debu di lensa," bohong Bumi. Suaranya datar, sedatar garis horizon Jakarta yang tertutup polusi udara ruko konveksi di seberang jalan.

"Sini, biar aku yang lap pakai kain mikrofiber." Danu sudah mengulurkan tangan ke arah kantong tas teleskop.

"Jangan disentuh," sergah Bumi cepat, mungkin sedikit terlalu keras untuk ukuran malam yang sepi. "Lensa okuler sensitif. Kalau kainmu ada pasir halusnya, pelapis antirefleksinya bisa tergores. Biar aku saja besok siang."

Danu menarik kembali tangannya, lalu memasukkannya ke saku celana pendek training-nya. Dia menatap kakaknya dengan mata menyipit. Remaja usia empat belas tahun itu memang tidak tahu apa-apa tentang astrofisika, tapi dia tahu persis kapan kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu. Bumi kalau sedang gugup atau berbohong biasanya akan langsung berbicara dengan istilah-istilah teknis yang rumit untuk membungkam lawan bicaranya.

"Ya sudah, terserah Kakak saja. Aku cuma mau bantu," kata Danu, nadanya agak turun. Dia berbalik, kembali duduk di atas peti kayu sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang panjang.

Bumi menghela napas pendek. Dia menyesali intonasi suaranya yang barusan. Di atas balkon beton berukuran tiga kali tiga meter ini, hanya Danu yang mau menemaninya terjaga hingga pukul sebelas malam di hari sekolah. Teman-teman sekelas Bumi di SMA lebih memilih menghabiskan malam dengan nongkrong di kafe atau mabar game daring. Sementara Danu, meski sering mengeluh mengantuk dan bosan, selalu bersedia membawa tripod besi seberat lima kilogram itu naik melalui tangga putar yang sempit setiap kali Bumi memintanya.

Lihat selengkapnya