Dalam astronomi, magnitudo adalah ukuran tingkat kecerahan suatu objek langit. Semakin kecil angkanya, bahkan hingga menyentuh angka minus, berarti objek tersebut makin terang. Matahari memiliki magnitudo -26,7, sedangkan Sirius, bintang paling terang di langit malam, berada di angka -1,46. Mata manusia telanjang dalam kondisi langit yang sangat bersih biasanya sanggup melihat objek hingga magnitudo +6,0.
Bagi Danu, Kak Bumi adalah objek dengan magnitudo minus. Dia adalah bintang paling terang di rumah ini. Dia yang selalu tahu jawaban saat Danu bingung mengerjakan tugas fisika, dan dia yang selalu punya alasan ilmiah kenapa lampu jalanan di depan rumah mereka selalu berkedip dengan ritme yang sama setiap musim hujan.
Namun, belakangan ini, Danu merasa magnitudo Kak Bumi sedang bergeser. Kecerahannya seperti meredup secara perlahan, pelan sekali, jenis perubahan yang tidak akan disadari orang luar, tetapi langsung tertangkap oleh mata seorang adik yang selalu mengamatinya dari jarak dekat.
"Dan, oper ke kanan!" teriakan Rian membuyarkan lamunan Danu.
Danu refleks melemparkan bola basket di tangannya ke arah Rian yang sudah berdiri bebas di bawah ring. Bola itu meluncur, memantul sekali di lantai semen lapangan sekolah yang agak retak, lalu masuk dengan mulus setelah membentur papan pantul.
"Bagus! Sekali lagi sebelum bel masuk!" Rian menangkap bola, lalu mengoper kembali ke Danu.
Danu menerima bola dengan kedua telapak tangannya, melakukan dribble pendek dua kali, lalu bersiap melakukan tembakan. Namun, alih-alih melihat ring besi di depannya, bayangan kejadian di balkon semalam justru melintas di kepalanya. Gerakan tangan Kak Bumi yang meraba udara kosong, meleset beberapa sentimeter sebelum akhirnya menemukan tripod besi.
Bumi kalau sedang gugup atau berbohong biasanya akan langsung berbicara dengan istilah-istilah teknis yang rumit. Ingatan itu membuat fokus Danu terganggu. Tembakannya meleset jauh, bola membentur pinggiran ring dan memantul liar ke arah tanaman pucuk merah di tepi lapangan.
"Wah, meleng kamu, Dan! Kenapa sih? Dari tadi kayak kurang tidur," Rian berlari mengejar bola, lalu kembali dengan menjepit bola itu di ketiaknya. Keringat bercucuran di pelipis anak itu.
"Enggak apa-apa. Semalam nemenin Kak Bumi di balkon sampai larut," jawab Danu sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung kaus seragam olahraga.
Rian terkekeh. "Kakakmu masih hobi ngeliatin langit malam ya? Heran deh, padahal langit Jakarta kan isinya cuma asap sama lampu ruko. Apa yang dilihat coba?"
"Banyak," sahut Danu membela. "Semalam kami lihat bintang ganda. Namanya Albireo. Kalau fokusnya pas, warnanya bisa kelihatan beda, biru sama kuning."
"Tetap saja menurutku itu membosankan. Mending main game di kamar, adem pakai AC," Rian mengoper bola ke anak lain yang baru datang, lalu berjalan beriringan dengan Danu menuju keran air di pinggir lapangan. "Eh, tapi Dan, minggu depan kan turnamen kita mulai. Kamu sudah bilang ke orang rumahmu?"