Bagi seorang astronom, polusi cahaya adalah musuh bebuyutan. Ini adalah fenomena di mana langit malam menjadi terlalu terang akibat pendaran cahaya buatan manusia dari lampu jalan, papan reklame, gedung perkantoran, dan lampu rumah. Dalam astronomi, ada yang disebut Skala Bortle untuk mengukur kegelapan langit. Skala 1 berarti langit benar-benar hitam pekat tanpa distorsi, seperti di tengah gurun atau puncak gunung terpencil. Sementara Skala 9 adalah langit pusat kota metropolitan, di mana yang bisa terlihat hanyalah Bulan, beberapa planet terang, dan rasi bintang paling dominan.
Jakarta, tempat Bumi dan Danu tinggal, berada kuat di Skala 8 menuju 9.
"Kak, awannya tebal sekali di sebelah barat," kata Danu sambil meletakkan termos berisi air panas di atas meja kayu balkon. Malam ini angin berembus agak kencang, membawa aroma jelaga dan sate ayam dari gerobak yang mangkal di depan gang.
Bumi tidak segera menyahut. Dia sedang sibuk mengatur posisi tripod. "Itu bukan awan, Dan. Itu pendaran lampu dari proyek pembangunan apartemen baru di dekat stasiun. Cahayanya memantul ke partikel debu dan kelembapan udara."
"Pantas saja warnanya agak kekuningan, bukan kelabu," Danu duduk di tepi balkon, memandangi lampu-lampu ruko konveksi di seberang jalan yang masih menyala benderang meski jam sudah menunjuk angka sepuluh lewat lima belas menit. "Kalau kotanya seterang ini, bagaimana kita bisa melihat Gugus Bintang Hercules?"
"Kita pakai filter Light Pollution Reduction," Bumi meraba saku jaketnya, mengeluarkan sebuah tabung plastik kecil berdiameter sekitar satu perempat inci. Di dalamnya ada lensa kaca tipis yang dilapisi lapisan kimia khusus. Filter ini bertugas memblokir panjang gelombang cahaya dari lampu natrium dan merkuri—dua jenis lampu yang paling sering digunakan untuk penerangan kota—sementara membiarkan cahaya alami dari nebula dan gugus bintang tetap masuk.
Bumi mencoba memasang filter tersebut ke ujung lensa okuler 25mm miliknya. Jari-jarinya bergerak lambat. Di bawah pendar lampu klip merah, dia harus meraba ulir tipis di ujung lensa dengan sangat hati-hati. Mata kanannya malam ini terasa seperti ditutupi selembar kain kasa tipis yang basah. Area buram di tengah penglihatannya meluas beberapa milimeter, memaksanya untuk memiringkan kepala ke kiri agar bisa menggunakan mata kirinya yang masih berfungsi untuk melihat detail ulir besi tersebut.
"Sini, Kak. Biar aku yang putar. Tangan Kakak gemetaran begitu," Danu tiba-tiba mendekat dan mengambil alih lensa dari tangan Bumi.
Bumi melepaskan pegangannya tanpa protes. Ada rasa sesak yang perlahan naik ke tenggorokannya, bukan karena asap kota, melainkan karena dia menyadari bahwa tugas-tugas motorik sederhana seperti memasang filter kini mulai membutuhkan bantuan orang lain.
"Sudah, nih. Klik," kata Danu setelah berhasil memutar filter itu dengan pas. "Terus sekarang kita arahkan teleskopnya ke mana?"
"Cari rasi bintang Herkules. Bentuknya seperti trapesium terbalik di dekat rasi Lyra. Lyra mudah dicari karena ada bintang Vega yang sangat terang di sana," instruksi Bumi. Dia sengaja mundur dua langkah, membiarkan Danu yang berdiri di belakang teleskop.
Danu memicingkan mata, menempelkan wajahnya pada finderscope—teropong pemandu kecil yang terpasang di atas teleskop utama. "Vega... Vega... oh, itu dia yang warnanya agak kebiruan, kan? Ketemu."
"Sekarang geser perlahan ke arah barat laut. Cari empat bintang yang membentuk kotak agak miring. Itu badannya Herkules. Objek M13 ada di antara dua bintang paling kanan."
Danu mengikuti arahan Bumi. Terdengar derit halus saat poros azimuth teleskop diputar secara manual. Danu adalah asisten yang baik. Dia tidak mengerti mekanika langit secara matematis, tetapi dia memiliki memori spasial yang luar biasa. Dia bisa mengingat posisi bintang hanya dengan beberapa kali percobaan.