Kalibrasi

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #5

Aberasi Kromatik

Bias Warna yang Salah

Danu hampir lupa tentang filter itu sampai Ibu memanggilnya dari dapur.

“Dan, katanya mau menyimpan barang Kakakmu. Jangan lupa sarapan dulu.”

Ia sedang duduk di lantai kamar, kakinya masih terbungkus celana seragam, sementara tangan kanannya sibuk mencari kaus kaki yang entah terselip di mana. Tas sekolah tergeletak terbuka di atas kasur. Dari dalamnya menyembul buku matematika, tempat pensil, dan selembar kertas berisi jadwal latihan basket yang sudah lecek di bagian lipatan.

“Iya, Bu. Sebentar.”

“Sebentar kamu itu bisa sampai bel masuk, Dan.”

Danu mendengus, lalu menarik kaus kaki dari bawah lemari. Salah satunya terbalik. Ia mengenakannya begitu saja.

Di balkon, teleskop masih berdiri di sudut tempat mereka biasa melakukan pengamatan. Danu naik setelah menghabiskan dua potong roti dan setengah gelas susu. Udara pagi terasa lembap. Di seberang gang, seorang tukang sayur sedang menurunkan keranjang dari sepeda motor, sementara suara mesin kendaraan mulai memenuhi jalan.

Filter polusi cahaya tergeletak di atas meja kayu, tepat di samping jurnal hitam Bumi. Danu mengambil tabung kecil itu dengan hati-hati, sebagaimana pesan kakaknya semalam. Ia belum benar-benar paham cara kerja filter tersebut. Baginya, benda itu lebih menyerupai komponen kamera daripada sesuatu yang bisa membantu melihat gugus bintang.

Ia membuka tutup plastiknya sedikit, memeriksa kaca tipis di dalamnya, lalu menutupnya kembali.

“Jangan sampai hilang,” suara Bumi terdengar dari ambang pintu.

Danu menoleh. Kakaknya sudah mengenakan seragam sekolah, dengan rambut sebahu yang masih sedikit berantakan. Sebuah sisir terselip di saku rok.

“Enggak akan.” Danu mengangkat tabung itu. “Aku taruh di kotak peralatan, ya?”

“Di kantong kecil tas teleskop saja. Biar gampang dicari nanti.”

Danu berjalan ke arah tas yang tersandar di dekat kaki tripod. Ia membuka kantong beritsleting dan memasukkan filter ke dalamnya. Setelah itu, ia memeriksa bagian dalam tas, memastikan tidak ada tutup lensa atau kain mikrofiber yang tertinggal di balkon.

“Semalam Kakak belum tidur waktu aku masuk, ya?” tanyanya.

Bumi sedang merapikan beberapa lembar kertas di atas meja. “Kenapa?”

“Waktu aku turun, Kakak masih menulis.”

“Sebentar saja, kok.”

“Sebentar sampai jam berapa?”

Bumi melipat kertas itu dan menyelipkannya ke dalam jurnal. “Kamu ini kenapa pagi-pagi sudah banyak tanya?”

Danu mengangkat bahu. “Nanya doang.”

“Kalau sudah selesai, turun. Nanti terlambat.”

Danu tidak segera bergerak. Ia memperhatikan wajah kakaknya, mencari sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan. Sejak beberapa bulan terakhir, ada saat-saat ketika Bumi menjawab pertanyaan dengan cepat, seolah-olah jawaban yang paling singkat bisa membuat percakapan segera berakhir. Danu mengenali nada itu. Biasanya muncul ketika Bumi sedang kesal, tetapi kali ini ia tidak yakin.

“Kakak mau aku bantu bawa teleskopnya turun?”

“Tidak usah. Nanti malam kita pakai lagi.”

“Kalau begitu, aku duluan.”

Bumi mengangguk.

Danu menuruni tangga sambil memikirkan latihan sore nanti. Pelatih sudah memperingatkan mereka bahwa pertandingan pertama tinggal beberapa hari lagi. Ia perlu memperbaiki tembakan dari sisi kanan, terutama setelah dua kali gagal memasukkan bola saat latihan terakhir.

Seharusnya itu cukup untuk memenuhi kepalanya sepanjang hari.

Namun, di kelas, ketika guru matematika menuliskan soal di papan tulis, pikiran Danu malah kembali ke balkon.

Ia teringat tangan Bumi yang bergerak perlahan ketika memasang filter. Ia teringat bagaimana kakaknya membiarkannya mengambil alih pekerjaan itu tanpa protes. Danu tidak tahu mana yang lebih aneh: Bumi yang menolak bantuan untuk hal-hal kecil atau Bumi yang mulai menerimanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Danu.”

Ia mengangkat kepala.

“Nomor tiga. Coba kerjakan.”

Beberapa anak menoleh. Rian, yang duduk dua meja di belakangnya, menyenggol kaki kursinya.

Danu berdiri, menatap soal yang tertulis di papan. Ia tahu cara mengerjakannya. Setidaknya, ia yakin pernah memahami materi itu kemarin sore. Namun, ketika melihat deretan angka dan simbol di depannya, langkah pertama mendadak terasa jauh.

“Bagaimana?” tanya guru.

“Sebentar, Pak.”

Tawa kecil terdengar dari belakang kelas. Danu mengambil kapur, menulis satu baris perhitungan, lalu berhenti karena menyadari ia salah memindahkan angka.

“Duduk dulu. Perhatikan lagi penjelasannya,” kata guru.

Danu kembali ke tempatnya tanpa membantah. Ia tahu Rian akan menggodanya nanti, tetapi yang membuatnya kesal bukanlah tawa teman-temannya. Ia kesal karena pikirannya terus kembali pada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia perbaiki.

Latihan basket berakhir ketika matahari mulai turun. Kaos Danu basah oleh keringat, dan telapak tangannya terasa perih setelah berulang kali menerima bola. Rian mengajaknya membeli es teh di warung dekat sekolah, tetapi Danu menolak. Ia harus pulang sebelum malam, sebab Ibu sudah dua kali mengingatkan bahwa ia tidak boleh terus begadang.

“Sejak kapan kamu jadi anak rumahan?” Rian mengikat tali sepatunya.

“Sejak kamu mulai banyak omong.”

“Cie, ada urusan keluarga.”

“Berisik.”

Rian tertawa. Danu mengambil tasnya dan meninggalkan lapangan bersama teman-temannya. Di persimpangan, ia berpisah dengan mereka, lalu berjalan pulang melewati deretan ruko yang sebagian lampunya sudah menyala.

Sesampainya di rumah, ia mendapati Bumi duduk di meja makan. Sebuah buku terbuka di hadapannya, tetapi tidak ada pulpen di tangan kakaknya. Ibu sedang memotong bawang di dapur. Televisi menyala dengan volume kecil, menyiarkan berita yang tidak benar-benar diperhatikan siapa pun.

“Kakak belum naik?” tanya Danu sambil meletakkan tas.

“Belum. Mau makan dulu.”

Danu melirik jam dinding. “Bukannya biasanya sudah di balkon jam segini?”

Bumi menutup bukunya. “Langitnya berawan.”

Danu mengikuti arah pandangannya ke jendela. Di luar, awan menggantung tipis di atas atap rumah tetangga. Beberapa bagian langit masih berwarna biru tua, belum sepenuhnya gelap.

“Belum tentu nanti malam berawan semua.”

Lihat selengkapnya