KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #2

BAB 2: Paras yang Melintasi Batas Nalar

Di sinilah riwayat kesombongan itu bermula!

Jauh sebelum tubuhnya menjadi santapan mata pisau yang dingin di bawah bisingnya lampu neon teater kota metropolis, Kamandaka adalah seberkas kemilau yang turun di atas tanah Sindang Kasih. Wilayah itu merupakan lereng subur yang selalu dipeluk oleh kabut pegunungan, tempat di mana pohon-pohon kopi tumbuh rimbun dengan buah-buah ranum sewarna darah perawan. 

Di sana, ia terlahir sebagai anak dari sepasang petani kopi jelata, manusia-manusia bumi yang tangannya kasar oleh cangkul dan punggungnya melengkung legam oleh beban keranjang bambu. Namun, jagat raya tampaknya sedang mabuk atau barangkali sedang bersenda gurau ketika merajut benang takdir untuk raga pemuda itu.

Kamandaka dianugerahi paras elok yang benar-benar melintasi batas nalar manusia. Ketampanannya bukan lagi sekadar pemanis pandangan, melainkan sebuah sihir visual yang sanggup menghentikan aliran napas bagi siapa saja yang berani menatapnya.

"Tangan sehalus ini tidak diciptakan untuk menyentuh kasarnya tanah ladang, Bu," ucap Kamandaka dingin sembari meletakkan kembali sisir kayunya di depan cermin perunggu rahasianya.

Ibunya yang berdiri di ambang pintu panggung hanya bisa menghela napas panjang, menatap keranjang bambu pemetik kopi yang masih kosong di sudut ruangan. "Tapi Jang, ayahmu sendirian di lereng gunung sejak subuh. Setidaknya bantu dia memikul satu keranjang saja ke pasar desa."

Kamandaka memutar tubuhnya perlahan, membiarkan aroma bunga mawar alami menguap dari rambut hitam legamnya yang tersisir rapi. Kulit kuning langsatnya bersinar menolak debu, membuat sang ibu terdiam kagum sekaligus kikuk melihat kesempurnaan putranya. "Biarkan para buruh upahan yang melakukannya. Wajahku adalah tiket menuju takhta, bukan untuk berkubang di lumpur Sindang Kasih."

Keangkuhan itu bukan tanpa alasan. Nama Kamandaka telah menjelma menjadi sihir ganjil yang menyihir seantero Kerajaan Galuh. Setiap kali ia melangkah melewati tikungan jalan setapak dengan bendo kain soga terpasang anggun, aktivitas desa mendadak lumpuh.

"Meuni kasep genter pisan si Jang Kamandaka teh!" bisik seorang gadis pemetik teh yang mendadak melepaskan anyaman bakulnya, jatuh pingsan di bawah rindangnya pohon campaka hanya karena menerima seulas senyum tipis dari bibir halus sang pemuda.

Namun di sudut jalan yang lain, para jejaka desa menatap punggung tegap bidang itu dengan kedengkian yang membakar dada. "Dia hanyalah pemuda pesolek yang menyembunyikan kelemahan di balik wewangian mawar," umpat seorang ksatria lokal, meremas hulu cangkulnya dengan kuat hingga jarinya terasa perih. "Suatu hari nanti, waktu akan merenggut wajah itu dan menyisakan tulang busuk."

Lihat selengkapnya