KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #3

BAB 3: Perlindungan Khusus dari Orangtua

"Kau gila, Kamandaka! Benar-benar sudah gila!"

Suara Ki Tarmudi, sang ayah, gemetar hebat hingga cangkir bambu berisi seduhan kopi di tangannya bergoyang, menumpahkan cairan hitam pekat ke atas lantai papan rumah yang reyot. Napas tua itu memburu, sewarna amarah yang tertahan sejak ia menginjakkan kaki di halaman rumah pasca-peristiwa sore tadi.

"Kau menolak Ki Permana? Menolak Nyi Euis di depan hidung seluruh tetua Sindang Kasih?" Ki Tarmudi melangkah mendekat, telunjuknya yang kasar dan berlumur getah kopi menunjuk tepat ke arah hidung Kamandaka. "Juragan tanah itu bisa meratakan gubuk kita dalam semalam jika dia menghendaki, Jang!"

Kamandaka yang sedang duduk bersila di sudut dipan bambu tidak mengalihkan pandangannya dari sebilah keris tiruan berkilau di pangkuannya. Ia menarik selembar kain halus untuk mengusap bilah logam tersebut, gerakannya teramat tenang, seolah-olah kemarahan sang ayah hanyalah deru angin gunung yang menumpang lewat.

"Lumbung padi dan beberapa peti perak milik Ki Permana terlalu murah untuk membayar harga diriku, Ayah," jawab Kamandaka, suaranya beralun merdu namun sedingin es di puncak gunung. "Gubuk ini memang layak diratakan, bukan karena amarah sang juragan, melainkan karena tempat yang kumal ini tidak pantas menampung kesempurnaan fisik yang kumiliki."

"Kamandaka! Jaga bicaramu pada ayahmu!" Ki Tarmudi berteriak parau, wajahnya yang legam terbakar matahari memerah padam. "Tanpa tanah sewaan dari Ki Permana, perutmu tidak akan pernah mengecap nasi putih!"

"Sudahlah, Kang... jangan bentak anak kita seperti itu." Nyai Suminar, sang ibu, mendadak melangkah keluar dari balik tirai dapur, menyela perdebatan dengan langkah terburu-buru. Ia langsung berdiri di antara suami dan putra tunggalnya, menatap Ki Tarmudi dengan pandangan memohon. "Jangan buat wajah tampannya kusut karena amarahmu. Kau tidak lihat betapa lelahnya si Jang hari ini?"

Ki Tarmudi terbelalak, menatap istrinya dengan rasa tidak percaya yang memuncak. "Kau membelanya, Sumi? Dia baru saja menaruh leher kita di bawah mata kapak Ki Permana! Seluruh tetua desa mengutuk tindakannya yang tidak tahu tata krama!"

"Meskipun tindakan Kamandaka sangat memicu kemarahan tokoh penting desa, dia tetap putra kita, Kang," potong Nyai Suminar sembari membalikkan tubuh, menatap wajah Kamandaka dengan binar mata yang penuh pemujaan. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, mencoba merapikan sehelai rambut hitam legam Kamandaka yang tergerai di pelipis, meskipun pemuda itu langsung menggeser kepalanya sedikit demi menghindari sentuhan kasar ibunya. "Anak kita ini berbeda. Dia tidak dilahirkan untuk berkubang di lumpur seperti kita. Kau tidak menyadarinya?"

"Berbeda bagaimana?" Ki Tarmudi mendengus, meskipun volume suaranya perlahan mulai merosot turun di bawah dominasi argumen istrinya.

Lihat selengkapnya