KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #4

BAB 4: Aroma Mawar yang Menyihir Desa

"Enok, kau mencium bau ini?"

Sari mendadak menghentikan gerakan jemarinya di atas alat tenun kayu yang berderit konstan sejak subuh. Hidungnya mengendus udara pagi hari yang sedari tadi hanya dipenuhi aroma debu tanah kering dan asap kayu bakar dari tungku-tungku dapur pedesaan.

"Mawar..." gumam Enok, temannya yang duduk di sudut teras rumah panggung. Kain halus yang sedang ditenunnya mendadak terlepas begitu saja dari pangkuan. "Dia lewat. Si Kasep dari lereng kopi sedang turun ke pasar desa."

Ada misteri yang ganjil pada tubuh Kamandaka. Sejak menginjak usia remaja, setiap helai rambut hitamnya selalu menguapkan aroma bunga mawar segar, bahkan tanpa perlu minyak wewangian mewah dari keraton istana. Aroma itu begitu pekat hingga mampu merayap menembus celah ventilasi rumah-rumah panggung di Sindang Kasih setiap kali ia melangkah lewat. Para gadis desa sering kali sengaja menenun kain di teras rumah hanya untuk mencium wewangian itu.

"Jangan menatapnya terlalu lama, Enok! Kau bisa tersirep mabuk gila sepanjang hari!" peringat Sari dengan suara berbisik, meskipun kedua kakinya sendiri menolak kompromi dan memilih berlari kecil menuju pagar bambu luar halaman rumah.

Di luar halaman, Kamandaka melangkah dengan ketukan kaki yang teramat santai dan berwibawa. Kain samping bermotif kuno Pasundan dan baju pangsi hitam miliknya bergerak anggun ditiup angin pegunungan yang sejuk. Rambut hitam legamnya yang sehalus serat awan tergerai sedikit di balik letak bendo kain soga yang tegak tanpa cela sedikit pun di atas kepalanya. Kamandaka sangat menyadari efek sihir yang dimilikinya. Ia sengaja memperlambat langkah kakinya, menikmati bagaimana tatapan mata penuh gairah dan kekaguman dari seluruh penjuru desa berpusat pada dirinya, menjadikannya tuhan kecil di tanah agraris itu.

"Sampurasun, Jang Kamandaka," tegur sekelompok wanita paruh baya yang sedang menjemur jagung di pelataran tanah. Tubuh mereka membungkuk begitu dalam seolah-olah sedang menyapa seorang pangeran menak dari keraton tinggi Galuh. "Meuni kasep genter pisan hari ini, Jang."

Kamandaka menghentikan langkah kakinya sejenak, membiarkan angin sore menyebarkan aroma mawar dari tubuhnya kian pekat ke arah mereka. Garis rahang kokohnya mengunci seulas senyuman santun luar yang sangat menawan, membuat jantung siapa pun yang memandangnya berdegup dua kali lebih kencang.

"Sampurasun, Bibi," jawab Kamandaka dengan nada suara yang beralun merdu, namun tatapan matanya tetap dingin, menatap kosong melewati kerumunan wanita itu. "Apakah jemuran jagung hari ini baik?"

"Gusti... baik, Jang, teramat baik setelah melihat wajahmu," jawab salah satu wanita dengan suara yang gemetar menahan debaran aneh di dadanya.

Lihat selengkapnya