"Pakai kain pengikat pinggang yang ini, Jang. Coraknya lebih tegas, pantas untuk dilihat orang-orang di lereng atas," ucap Nyai Suminar sembari mengulurkan selembar kain tenun bermotif garis soga yang masih bersih dari noda.
Kamandaka menerima kain itu tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin perunggu rahasianya. Jemarinya yang halus membetulkan letak bendo kain soganya yang tegak lurus di atas dahi. "Apakah Ayah sudah merapikan pelana kuda sewaan itu, Bu? Aku tidak ingin pakaian pangsi hitamku kotor oleh bekas keringat kuda sebelum kita sampai di gerbang kebun."
"Sudah, sudah disiapkan semua oleh ayahmu," jawab Nyai Suminar dengan nada terburu-buru, matanya memancarkan binar pemujaan yang kian buta terhadap ketampanan putranya. "Kau hanya perlu menungganginya dengan tegap saat melewati kedai kopi hulu lereng. Biar para pemuda buruh ladang yang kemarin mencacimu itu melihat, siapa sebenarnya pangeran Sindang Kasih yang sesungguhnya."
"Mereka akan melihat apa yang sudah seharusnya mereka lihat, Bu," balas Kamandaka dingin, rahang kokohnya mengatup rapat memancarkan wibawa ksatria yang angkuh. "Sepotong keindahan khayangan yang turun menembus debu tanah perkebunan mereka."
Di bawah tangga rumah panggung, Ki Tarmudi sudah berdiri memegangi tali kekang seekor kuda jantan berbulu cokelat mengkilap. Wajah tua yang legam terbakar matahari itu tampak gusar, matanya melirik ke kanan dan ke kiri, cemas jika ada tetangga desa yang menyadari bahwa kuda itu disewa menggunakan sisa uang simpanan mereka yang kian hari kian menipis.
"Cepat naik, Kamandaka," bisik Ki Tarmudi parau saat melihat putranya turun dari tangga dengan langkah kaki yang teramat anggun, menyebarkan aroma mawar pekat yang langsung membelah hawa pagi yang dingin. "Para pemetik kopi dari desa seberang sudah mulai merangsek naik ke lereng atas sejak subuh. Kita harus sampai di sana sebelum matahari terlalu tinggi."
Kamandaka melompat naik ke atas pelana kuda dengan gerakan yang teramat lincah, memposisikan tubuh tegap bidangnya dalam postur ksatria yang sempurna. Di bahu kirinya, melingkar sebuah busur panah kayu hiasan bertatahkan ukiran perak tiruan yang berkilat ditimpa sisa embun pagi.
"Jangan berjalan terlalu cepat, Ayah," ucap Kamandaka sembari menarik sedikit tali kekang kudanya, menahan laju binatang itu agar tetap berjalan lambat membelah jalan setapak desa. "Biarkan langkah kuda ini berirama. Sebuah mahakarya tidak boleh disajikan secara terburu-buru di depan mata rakyat jelata."
Ki Tarmudi hanya menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sembari berjalan kaki di samping kuda putranya, bertindak layaknya seorang pejalan kaki atau kusir pribadi bagi anaknya sendiri.
Untuk menghindari kesan di mata masyarakat desa bahwa putra mereka adalah pemuda pemalas yang tidak berguna, ayah Kamandaka sesekali mengajaknya pergi ke perkebunan kopi saat musim panen tiba. Namun, itu hanyalah sebuah sandiwara visual yang telah diatur rapi oleh ketakutan moral kedua orang tuanya. Kamandaka tidak diminta memetik buah kopi yang bergetah pekat, melainkan hanya dihadirkan sebagai hiasan agung di tengah kerasnya realitas kaum buruh ladang.