"Lihat tangannya, Kang. Halus. Putih. Seperti tangan dayang-dayang keraton yang tidak pernah memegang hulu cangkul."
Sagara meludah ke tanah berbatu, tepat di bawah rimbunnya pohon kemiri dekat arena festival panen desa Sindang Kasih. Matanya yang merah menatap nanar ke tengah lingkaran arena, tempat di mana puluhan gadis desa sedang berkerumun, saling sikut hanya untuk menyodorkan cangkir bambu berisi tuak manis kepada seorang pemuda yang duduk di atas dipan bambu dengan pakaian pangsi hitam terbaiknya.
"Jangan hanya melihat tangannya, Sagara. Lihat bendo soga di kepalanya itu. Tegak tanpa cacat, seolah angin gunung pun takut merusak lipatannya," sahut Jaka, suaranya bergetar menahan amarah yang terpendam sejak peristiwa di kebun kopi kemarin. Ia mencengkeram erat sebongkah batu kali di tangan kanannya hingga urat-urat lengannya yang legam terbakar matahari menegang kaku. "Kita di sini memeras keringat sampai punggung melengkung, tetapi di mata para perawan itu, kita tidak lebih berharga daripada kotoran kerbau."
Keistimewaan yang dinikmati Kamandaka melahirkan pusaran kebencian dan kecemburuan yang teramat sangat besar di kalangan para jejaka Sindang Kasih. Malam ini, dalam kemeriahan festival desa yang diterangi puluhan obor bambu, ketidakadilan itu terasa kian mencekam jiwa para pekerja keras. Musik celentung dan kendang bertalu-talu membelah hawa malam, namun bagi para pemuda yang kulitnya kasar dihantam cuaca, irama itu terdengar seperti ejekan halus yang merendahkan martabat ksatria lokal mereka.
"Jang Kamandaka, minumlah tuak manis ini. Saya memeras buahnya sendiri khusus untuk Anda subuh tadi," ucap seorang gadis bermata bulat dengan suara yang sesantun mungkin, tubuhnya membungkuk dalam seolah sedang menyerahkan upeti kepada seorang pangeran menak.
Kamandaka yang menjadi pusat perhatian di tengah lingkaran pemujaan itu tidak langsung meraih cangkir bambu itu. Ia membiarkan helai rambut hitam legamnya yang memancarkan aroma bunga mawar segar tergerai sedikit ditiup angin malam, menyebarkan keharuman mistis yang seketika membuat para perawan di sekelilingnya terengah-engah menahan gairah yang mematikan.
"Taruh saja di atas nampan kayu itu, Neng," jawab Kamandaka dengan nada suara beralun merdu yang teramat tenang, hampir meremehkan ketulusan sang gadis. "Aroma manis tuakmu terlalu menyengat, aku tidak ingin wewangian alami rambutku tercemar oleh bau perasan buah yang terlalu matang."
"A-ah, maafkan saya, Jang... saya tidak bermaksud mengganggu kenyamanan Anda," gadis itu mundur dengan wajah yang memerah padam, namun matanya tetap mengunci takjub pada garis rahang kokoh Kamandaka yang bersinar tanpa cela di bawah pendar cahaya obor.
Kamandaka tersenyum tipis penuh kemenangan dingin di dalam batin narsistiknya. Ia sengaja mengedarkan pandangan matanya yang tajam ke sekeliling arena festival, menikmati bagaimana puluhan pasang mata wanita mengikutinya bagai kunang-kunang yang haus akan cahaya dewa.