Malam selalu melarutkan Sindang Kasih dalam sunyi yang dingin, meluluhkan riuh rendah kebun kopi ke balik pekatnya kabut gunung. Namun, bagi Kamandaka, kegelapan adalah cermin raksasa yang membentangkan jarak antara gubuk reyot tempatnya berpijak dan takhta megah yang seolah melambai di ujung cakrawala.
Kamandaka tidak pernah menganggap Sindang Kasih sebagai dunia sejatinya. Di malam hari, saat kesunyian desa mulai merayap, ia sering berdiri di teras rumah panggung, menatap ke arah cakrawala barat tempat ibu kota Kerajaan Galuh berada. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan ronce melati di benaknya, menyebarkan aroma mawar segar dari rambut hitam legamnya yang tergerai indah.
"Kau belum tidur, Jang?" Nyai Suminar melangkah pelan dari kegelapan dalam rumah, mendekati putranya sembari membawa selembar kain selimut usang. "Udara malam pegunungan tidak baik untuk kulit wajahmu yang halus. Masuklah, Nak."
Kamandaka tidak menoleh. Sepasang matanya yang tajam mengunci satu titik cahaya lampion yang samar-samar berkilau di kaki langit barat. "Kulitku dilindungi oleh takdir yang lebih tinggi dari sekadar tiupan angin gunung, Bu. Di barat sana... Galuh sedang menungguku."
"Galuh itu jauh, Jang," bisik Nyai Suminar, melirik cemas ke arah suaminya yang sudah mendengkur kelelahan di dalam kamar. "Ibu tahu kau dipuja di sini, tapi di kota raja, orang-orang menak memiliki ksatria dan pangeran yang tak kalah mentereng. Apakah kau yakin?"
"Ksatria?" Kamandaka mengeluarkan sebuah dengusan meremehkan yang teramat dingin, rahang kokohnya mengatup rapat. "Ksatria mereka hanyalah lelaki berotot yang badannya berbau besi karatan dan darah perang. Mereka tidak memiliki apa yang kumiliki, Bu. Pesona yang kubawa ini adalah sihir sejati yang mampu meruntuhkan benteng keraton tanpa perlu sebilah pedang pun terhunus."
"Jang..."
"Informasi dari para pedagang keliling kemarin tidak mungkin keliru, Bu," potong Kamandaka, membalikkan tubuh tegap bidangnya perlahan hingga aroma mawarnya kian pekat menyengat hidung sang ibu. "Mereka bercerita tentang balairung istana yang berlapis emas murni, tentang Ratu Penguasa yang kini kesepian, dan tentang putri-putri menak yang matanya haus akan keindahan sejati. Apakah Ibu ingin aku membusuk di sini, menua sebagai petani terhormat yang tangannya berbau getah kopi pahit?"
"Tentu tidak, Nak," jawab Nyai Suminar cepat, air mata ambisi gila mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. "Ibu dan ayahmu memanjakanmu bukan untuk melihatmu berakhir di liang lahat desa kecil ini. Tapi bagaimana caramu menembus gerbang batu kota raja yang dijaga ketat itu?"