KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #8

BAB 8: Sumpah Darah Nyi Euis

Malam tidak pernah benar-benar menjanjikan kedamaian di lereng Sindang Kasih, terlebih ketika matahari baru saja tenggelam dengan meninggalkan sisa-sisa badai penghinaan yang meremukkan martabat seorang manusia. Di dalam bilik tidurnya yang sempit, Nyi Euis duduk bersila di atas amben bambu yang berderit setiap kali tubuhnya bergerak gelisah. Angin malam yang berembus dari arah celah dinding anyaman bambu membawa aroma getah kopi dan tanah basah, namun tidak ada satu pun kesegaran alam yang mampu mendinginkan bara api yang sedang berkobar hebat di dalam relung dadanya.

Penolakan ketus dan keji yang dilakukan Kamandaka siang tadi di alun-alun kampung menyisakan luka batin yang teramat dalam dan berdarah-darah di dalam dada Nyi Euis. Ia masih mengingat dengan sangat jelas, bagaimana pemuda narsistik itu memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kemuakan. Kata-kata Kamandaka yang membandingkan ketulusan cintanya dengan seonggok lumpur gilingan kopi yang tidak berharga, masih terngiang-ngiang jelas di indera pendengarannya, memutus seluruh harga dirinya sebagai seorang perawan desa yang paling dihormati di wilayah lereng kopi.

Rasa malu karena ditolak di depan umum di hadapan seluruh warga desa, di depan mata para pemuda kampung yang dulu selalu memujanya, kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi dendam kesumat yang membakar kewarasannya. Cinta yang dulu membumbung tinggi ke langit khayangan kini telah jatuh terhempas, membusuk menjadi sebongkah kebencian hitam yang menuntut pembalasan setimpal melintasi batas nalar manusia sehat. Nyi Euis menatap kedua telapak tangannya sendiri di bawah pendar lampu minyak yang temaram; tangannya gemetar hebat, bukan karena didera rasa takut, melainkan karena gairah kegelapan yang kian hari kian membakar kesadarannya.

"Kau memandangku seumpama noda di atas pakaianmu, Kamandaka," bisik Nyi Euis dengan nada suara yang teramat sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. "Kau mengira ketampanan fisik yang kau miliki adalah perisai baja yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh rasa sakit. Kita lihat saja, seberapa jauh kau bisa berlari membawa kesombonganmu itu sebelum tanah bumi Pasundan memakan ragamu."

Ketika jam tengah malam telah berdentang lambat dan seluruh penduduk Sindang Kasih telah terlelap di dalam rumah bambu mereka, Nyi Euis bangkit berdiri perlahan dari amben tidurnya. Di malam hari saat bulan mati, ketika langit di atas lereng gunung menghitam pekat tanpa ada seulas pun cahaya bintang atau rembulan yang menerangi bumi, ia melangkah pergi keluar menembus pintu belakang rumahnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia tidak membawa obor, tidak membawa bekal makanan, ia hanya menyelimuti tubuh langsingnya dengan selembar kain kebaya hitam usang yang robek di beberapa sudutnya.

Nyi Euis melangkah pergi menuju hutan terlarang di hulu sungai Sindang Kasih sendirian, membelah hamparan kabut tebal yang merayap dingin di atas permukaan tanah ladang kopi. Hutan terlarang tersebut adalah wilayah angker yang paling ditakuti oleh seluruh penduduk desa; tempat di mana hukum alam manusia tidak lagi berlaku dan para tetua adat melarang siapa pun untuk menginjakkan kaki mereka jika tidak ingin sukmanya terperangkap di dalam dimensi gaib seumur hidup. Namun, bagi Nyi Euis yang kewarasan jiwanya telah lumat habis oleh dendam, rasa takut itu terasa teramat sangat kerdil dibandingkan perihnya penghinaan Kamandaka.

Lihat selengkapnya