KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #9

BAB 9: Teror Mistis di Rumah Panggung

"Apakah kau mendengar suara itu lagi, Kamandaka? Sesuatu sedang mencakar dinding papan kamarmu dari luar sejak lonceng tengah malam berdentang."

Suara Nyai Suminar bergetar hebat di balik daun pintu yang tertutup rapat. Tangannya yang memegang lampu minyak bergoyang tidak stabil, memantulkan bayangan tubuh kurusnya yang tampak meliuk-liuk seram di atas dinding anyaman bambu ruang tengah. 

Hawa dingin yang teramat sangat pekat merembes masuk dari celah-celah papan lantai panggung, membuat udara di dalam rumah terasa dingin, mengunci seluruh keberaniani yang tersisa di dalam dada orang tua itu.

Kamandaka yang sedang duduk bersila di depan cermin perunggunya tidak menjawab sepatah kata pun. Sepasang matanya yang tajam tetap mengunci  pantulan rahang kokoh dan wajah rupawannya yang tampak berkilau samar di bawah pendar cahaya lampu minyak yang bergetar. Namun, keangkuhan narsistiknya tidak bisa menyembunyikan getaran ganjil yang mendadak muncul di ujung jemari tangan kirinya. "Itu hanya embusan angin gunung yang memukul rantang jati tua, Ibu. Jangan biarkan ketakutanmu merusak ketenangan malam istirahatku," jawab Kamandaka dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, mencoba mengusir rasa linu perih yang mulai merayap naik menyusuri pembuluh darah pada lengannya.

Sejak malam sumpah darah Nyi Euis di hulu sungai Sindang Kasih, udara di sekitar rumah panggung keluarga Kamandaka memang telah mulai berubah menjadi teramat dingin dan mencekam. Rumah kayu yang biasanya menjadi tempat paling aman bagi Kamandaka untuk mematut diri kini terasa seumpama sebuah keranda besar yang sedang dikepung oleh ribuan pasang mata kasatmata dari luar kegelapan hutan kopi. Kehangatan keluarga petani itu runtuh seketika, digantikan oleh kecemasan batin yang kian hari kian menggerogoti pikiran mereka.

Nyai Suminar melangkah mundur perlahan menuju kamar tidurnya, menggandeng erat lengan suaminya, Ki Tarmudi, yang sejak tadi berdiri diam dengan memegang sebilah parang tajam penolak bala di dekat tangga panggung. Mereka berdua didera ketakutan yang luar biasa, mengira rumah tinggal mereka sedang dikepung oleh teluh hitam kiriman desa seberang yang cemburu atas kesuksesan Kamandaka mendapatkan tiket emas menuju lingkaran istana Ratu Galuh. Mereka tidak pernah tahu bahwa demit yang mengundang malapetaka gaib itu sedang duduk tersenyum sombong di depan cermin perunggu kamar belakang.

Tok... Tok... Tok...

Lihat selengkapnya