KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #10

BAB 10: Ritual Ketampanan di Telaga Gaib

Matahari pagi boleh saja terbit membasuh atap hunian rumah panggung kayu di lereng Sindang Kasih, namun sisa-sisa bau anyir darah gaib dari cermin perunggu yang retak semalam tidak pernah benar-benar menguap dari udara. Kamandaka berdiri di tengah kamarnya yang pengap, menatap lurus ke arah pecahan logam perunggu di atas meja kayu dengan pandangan mata yang sedingin es. Kedua orang tuanya, Nyai Suminar dan Ki Tarmudi, terduduk lemas di sudut dapur dengan tubuh gemetar hebat dan wajah sepucat kain kafan, merapalkan mantra keselamatan yang terasa kerdil di hadapan kepekatan teror semalam. Mereka memohon agar Kamandaka membatalkan perjalanannya ke kota raja, mengira teluh hitam musuh politik desa seberang telah mengunci pintu takdir mereka.

Namun, Kamandaka yang menyadari ada serangan mistis tersembunyi yang mencoba merusak pesona fisiknya tidak lantas menjadi gentar atau ketakutan sedikit pun. Di dalam kamarnya yang sunyi, ia justru mengusap sisa rembesan cairan merah pekat di atas permukaan mejanya menggunakan ujung jarinya, lalu mengendus aroma anyir itu tanpa ekspresi jijik. Didorong oleh narsismenya yang kian akut, gila, dan sakit, Kamandaka menganggap teror sampah itu hanyalah sebuah kerikil kecil yang mencoba menantang kemurnian raga titisan dewanya. Baginya, ketampanan mutlak yang ia miliki adalah sebuah mahakarya suci yang tidak boleh dinodai oleh kutukan hantu lereng gunung mana pun.

"Jangan menangis bagai perempuan lemah, Ibu," ucap Kamandaka dengan nada suara lembut namun teramat sangat angkuh, memecah kesunyian rumah panggung. Ia membetulkan letak kain samping barunya dengan gerakan yang teramat sangat telaten. "Jika kegelapan hutan ini bisa mengirimkan darah melalui cermin, maka aku akan mencari air yang lebih gaib untuk membasuh wajahku. Kulit dan dada bidangku ini diciptakan untuk menerima sematan mahkota Ratu Galuh, bukan untuk layu oleh teluh orang desa yang sakit hati."

Keangkuhan batinnya justru melahirkan sebuah keputusan baru yang jauh lebih ekstrem dan berbahaya bagi keselamatan jiwanya. Kamandaka tahu bahwa untuk melawan pengaruh gaib hitam yang mulai merayap di pembuluh darah pergelangan tangannya, ia tidak bisa hanya mengandalkan air basuhan mawar biasa dari sumur tua rumah tinggalnya. Ia membutuhkan pasokan energi spiritual alam yang lebih pekat, sebuah sistem pembersihan diri gaib yang mampu mengunci sel-sel kulit kuning langsatnya agar tetap bersinar tanpa cela sedikit pun, seberapa keras pun kutukan luar mencoba mencabik lembaran hidupnya.

Ketika malam berganti rupa menjadi malam Selasa Kliwon, saat atmosfer udara di sekeliling lereng gunung terasa berkali-kali lipat lebih dingin, sunyi, dan mencekam jiwa, Kamandaka melangkah pergi keluar menembus pintu belakang rumah panggungnya sendirian. Di langit luar, cahaya bulan menyisakan pendar temaram, menyelimuti puncak-puncak pohon kopi dengan warna kelabu. Kamandaka berjalan dengan langkah kaki yang tegap, membelah semak belukar hutan terlarang menuju sebuah titik buta yang dihindari oleh seluruh penduduk desa: Telaga Gaib.

Telaga Gaib adalah sebuah ceruk mata air yang terletak tersembunyi di kaki gunung Galuh. Air telaga itu dikenal teramat sangat angker; permukaannya selalu tenang membeku tanpa pernah ada riak gelombang sedikit pun, mencerminkan kegelapan langit luar seumpama cermin yang tertanam di dasar bumi. Para sesepuh adat Sindang Kasih mempercayai bahwa air telaga itu adalah tetesan keringat para lelembut, tempat bersemayamnya kekuatan magis yang mampu mengabulkan kehendak fisik manusia namun menuntut bayaran sukma.

Lihat selengkapnya