"Jangan mengira kau bisa mengelabui maut hanya karena kau berhasil membersihkan bulu-bulu halus di tubuhmu hingga bersih mulus, Anak Muda yang malang."
Suara parau seumpama gesekan batu kuburan itu mendadak membelah keheningan sunyi yang mencekam di sekitar Telaga gaib. Nada bicaranya bergetar rendah, namun memiliki gema yang teramat sangat kuat, langsung menusuk telak ke dalam relung pembuluh darah Kamandaka yang saat itu masih berendam polos setengah badan di dalam air yang membeku. Sentuhan mistis dari kata-kata itu terasa seolah-olah ada jari-jari hantu yang mendadak mencengkeram erat seluruh urat syarafnya.
Kamandaka tersentak hebat, dadanya naik turun dengan napas yang mendadak terasa sesak tersiksa ditiup hawa dingin yang merembes keluar dari permukaan air. Ia memutar tubuhnya, sepasang matanya yang sarat akan keangkuhan menatap ke setiap sudut tegalan pengap kaki gunung. Di bawah siraman cahaya bulan temaram, indera penglihatannya membelalak ngeri melihat pemandangan ganjil di pinggir telaga yang sebelumnya kosong senyap tanpa ada tanda siapa pun.
Sesosok manusia tua kurus kering dengan pakaian kain usang mendadak muncul, duduk dengan posisi bersila di atas sebuah bongkahan batu besar yang dipenuhi lumut hitam tepat di bibir telaga. Orang tua itu bertubuh ringkih seumpama seonggok ranting kayu kering, dengan janggut putih panjang yang menjuntai menyentuh tanah basah. Namun, aura spiritual yang memancar keluar dari sekujur tubuhnya terasa teramat sangat luar biasa besar, menekan seluruh udara malam Selasa Kliwon menjadi sangat dingin.
Orang tua misterius itu tidak lain adalah seorang pertapa sakti sepuh yang kedua matanya telah buta total akibat luka masa lalu dalam pertempuran kerajaan kuno. Meskipun kelopak matanya yang keriput tertutup rapat tanpa bola mata, ia memiliki indera penglihatan batin yang mampu menembus melintasi dimensi ruang waktu, membaca seluruh goresan takdir kelam manusia dari masa lalu hingga ratusan tahun masa depan baru yang belum terlahir ke bumi Galuh.
Pertapa buta itu mengarahkan wajah keriputnya tepat ke arah Kamandaka, memancarkan sinyal spiritual tingkat tinggi yang membuat air telaga yang biasanya tenang membeku mendadak bergetar halus mengeluarkan gelembung-gelembung uap berwarna merah pucat berbau anyir besi berkarat.
"Siapa kau, Orang Tua Bangka yang berani menggganggu ritual suciku?" bentak Kamandaka dengan rahang kokoh yang mengatup keras. Ia membusungkan dadanya, menolak untuk tunduk atau terlihat kerdil di hadapan sesosok pengemis tua berpakaian compang-camping di depannya.
Pertapa buta itu tidak merespon amarah Kamandaka dengan kemarahan; ia justru mengeluarkan suara tawa parau yang mendengung seram bersama desau angin yang mulai bertiup kencang menggerakkan akar-akar gantung pohon beringin tua. "Aku adalah sisa sejarah yang menolak dilupakan oleh tanah bumi Pasundan ini, Kamandaka," ucap sang pertapa dengan nada suara merdu namun berwibawa laksana seorang resi agung istana. "Aku datang bukan untuk mengotori lulur kenangamu, melainkan untuk membacakan lembaran kitab takdir yang baru saja kau pahat menggunakan kesombongan darahmu sendiri malam ini."