KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #12

BAB 12: Datangnya Surat Maklumat Sayembara

"Orang tua gila itu pasti utusan Patih atau juragan tanah yang cemburu melihat kesempurnaan ragaku. Tidak ada satu pun ramalan buruk yang bisa menjatuhkan takdir besarku di istana Galuh!"

Kata-kata penuh keangkuhan itu meluncur deras dari bibir halus Kamandaka, memecah kesunyian fajar yang pengap di dalam kamar rumah panggungnya. Meskipun kata-kata ramalan pertapa buta di Telaga Gaib malam itu sempat membuat jantung manusianya berdegup kencang ketakutan, keangkuhan Kamandaka semakian hari kian kembali menguasai pikirannya seutuhnya. Setelah kembali ke rumah tinggal keluarga petani kopi  dan memastikan lewat cermin perunggu rahasianya bahwa kulit wajah kuning langsat serta dada bidangnya masih tetap utuh bersinar tanpa ada cacat atau noda garis halus sedikit pun, ia memilih untuk mengabaikan seluruh peringatan mistis sang resi buta itu.

Ia berdiri tegak mematut diri, meraba garis rahang kokohnya yang sekeras batu karang dengan kepuasan narsistik yang akut, sakit, dan kian mendalam. Di atas permukaan meja kayu bawah cermin, sisa rembesan cairan merah pekat semalam telah mengering, meninggalkan aroma anyir besi tipis yang lekat berbaur dengan keharuman bunga mawar rambutnya. Kamandaka mengabaikan retakan panjang di cerminnya; baginya, retakan logam itu hanyalah ilusi mata dari sihir murahan orang yang sakit hati karena kesempurnaan dirinya.

Nyai Suminar masuk melangkah perlahan menembus tirai kamar, membawa sepotong kain lap basah untuk membersihkan debu meja dengan tangan yang masih gemetar didera ketakutan psikologis pasca-teror malam Selasa Kliwon. "Jang, apakah kau tidak merasakan ada hawa dingin pekat yang ganjil merembes dari dalam tas kain kecilmu?" tanya sang ibu memelas parau, melirik ngeri ke arah tas tempat Kamandaka menyembunyikan sebutir buah maja hitam berurat darah yang dipungut dari telaga gaib. Kamandaka hanya mendengus meremehkan ketakutan ibunya. "Hawa dingin ini adalah pelindung sel kulitku, Ibu. Bersiaplah, takdir kemegahanku tidak akan membusuk di lereng gunung ini," jawabnya dingin.

Ia duduk kembali di amben bambu, mengambil pisau kecil khusus miliknya untuk memeriksa bagian intim bawah tubuhnya. Dengan sangat telaten, Kamandaka memangkas habis setiap helai bulu halus baru yang mulai tumbuh di sekitar alat kejantannya yang putih bersih, memastikan area sensitif tersebut tetap bersih mulus menawan menolak noda. Perawatan  yang ekstrem ini seketika menaikkan rasa percaya dirinya menuju titik tertinggi; ia merasa tubuhnya adalah sebuah mahakarya suci tanpa cacat yang diciptakan alam semesta khusus untuk menaklukkan singgasana emas Ratu Penguasa Pasundan.

Dua minggu setelah peristiwa mistis di Telaga Gaib berlalu tanpa ada gangguan berarti bagi rumah tinggal mereka, sebuah kehebohan besar melanda seluruh penjuru alun-alun desa Sindang Kasih tepat saat matahari berada di puncak ubun-ubun kepala. Suara derap kaki kuda terdengar bergemuruh kencang membelah jalan setapak ladang kopi, memicu kepanikan luar biasa di kalangan para petani yang langsung berhamburan keluar dari kebun mereka. Seorang utusan resmi berkuda dari ibu kota Kerajaan Galuh telah tiba dengan kawalan ketat sepasang prajurit yang bertombak baja berkilat-kilat tajam di bawah terik matahari.

Lihat selengkapnya