"Apakah kau mengira selembar kain usang ini pantas membungkus tubuhku yang diciptakan untuk bersanding dengan mahkota kerajaan, Ibu?"
Suara Kamandaka memecah keheningan kamar panggungnya yang temaram. Nada suaranya beralun merdu, namun teramat sangat dingin, menusuk telak ke dalam relung hati Nyai Suminar yang sedang berlutut di atas lantai papan.
Sang ibu, dengan tangan yang gemetar dan mata yang berkaca-kaca menahan haru, tengah memegangi selembar kain jarik corak soga tua. Kain itu adalah pakaian terbaik yang dimiliki keluarga mereka, namun di mata Kamandaka, selembar benang tenunan desa itu tidak lebih dari seonggok kain lap dapur yang menghina martabat raganya.
"Tapi Jang, ini kain peninggalan kakek buyutmu. Sutranya masih halus, corak garisnya masih tegas untuk kau pakai saat menghadap utusan istana di balai desa nanti," ucap Nyai Suminar memelas, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mendongak, menatap punggung tegap bidang putranya yang terbungkus pakaian pangsi hitam.
Kamandaka tidak menoleh sedikit pun. Sepasang matanya yang tajam mengunci pantulan dirinya sendiri di dalam cermin perunggu rahasia yang ia letakkan di atas meja kayu. Permukaan logam perunggu itu mulai tampak buram di beberapa sudut, memantulkan bayangan wajah rupawannya di balik pendar lampu minyak yang bergetar ditiup angin gunung. Dengan gerakan yang teramat sangat telaten dan pelan, ia mengusap garis bibirnya yang halus, menyusuri rahang kokohnya yang sekeras batu karang, lalu berbisik lantang menantang takdir dunia.
"Gunakan seluruh sisa koin perak di dalam koper tanah ini, Ayah, Ibu. Jangan biarkan selembar benang pun menghina martabat ragaku saat melangkah masuk ke arena sayembara kota raja Galuh esok pagi," Suara Kamandaka bergaung datar namun sarat akan titah yang tidak menerima penolakan sedikit pun dari dalam kamar tidur rumah panggungnya yang temaram.
Isak tangis Nyai Suminar yang sejak tadi bersujud di depan amben bambu sembari memegangi selembar kain pembungkus pakaian usang. Hawa dingin pekat merembes keluar dari sela-sela dinding papan kayu yang masih berbau anyir besi sisa teror mistis malam Selasa Kliwon, mengunci seluruh nalar sehat sepasang orang tua jelata tersebut untuk tetap tunduk pada ambisi narsistik sang putra tunggal.
"Keluarkan saja kotak penyimpanan koin milik Ayah, Bu," perintah Kamandaka dingin, membetulkan letak bendo kain soganya yang tegak lurus tanpa cela di atas dahi. "Gunakan seluruh sisa uang itu untuk menyewa kereta kuda terbaik di perbatasan lereng. Aku tidak sudi melangkah masuk ke kota raja Galuh dengan berjalan kaki bagai seorang pengemis yang haus belas kasihan."