KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #14

BAB 14: Perjalanan Menuju Ibu Kota Kerajaan

"Apakah kau mencium aroma itu lagi, Suarsih? Bau anyir yang sempat merembes dari cermin perunggu semalam, mengapa kini seolah mengendap di dasar lantai kereta sewaan ini?"

Suara Kamandaka memecah keheningan di dalam kabin kereta kuda yang sempit dan gelap. Nada suaranya datar, namun memiliki ketajaman dingin yang langsung menusuk ulu hati pelayan pribadinya. Kamandaka duduk bersandar di atas kursi beludru lusuh, membiarkan tubuh tegap bidangnya bergoyang mengikuti tempo guncangan roda kayu yang menggilas batu-batu tajam jalur perbukitan. Sepasang matanya yang tajam tetap menatap lurus ke depan, ke arah jendela kecil yang menampilkan gulungan kabut pegunungan  yang kian menpinis diterpa sinar matahari pagi.

Suarsih yang duduk bersila di lantai kereta kuda, tepat di samping tas kain berisi buah maja hitam berurat darah, tersentak hebat mendengar pertanyaan tuannya. Tangannya yang memegang selembar kain basah penolak noda mendadak gemetar, menahan mual yang luar biasa pekat di dalam dadanya. "Hamba tidak mencium bau apa pun, Jang," bohong Suarsih dengan suara bergetar pelan, melirik ngeri ke arah tas kain yang gaibnya terus memancarkan hawa dingin pekat yang membekukan lantai kayu kereta tinggal mereka sepanjang jalan. "Mungkin itu hanya sisa aroma minyak lulur bunga kenanga mekar yang Anda oleskan di Telaga Gaib sebelum kita berangkat tadi."

Kamandaka mendengus meremehkan jawaban pelayannya. Ia tidak mempedulikan ketakutan yang terpancar dari wajah pucat Suarsih. Dengan gerakan tangan yang teramat sangat anggun dan telaten, ia membetulkan letak bendo kain soga di atas dahi halusnya, memastikan tidak ada satu pun helai rambut hitam legamnya yang kusut tertiup angin perbukitan. Baginya, kereta kuda sewaan yang dibayar menggunakan seluruh sisa uang tabungan koin perak orang tuanya ini adalah sebuah istana berjalan, sebuah tempat bernaung  sementara yang harus dijaga kemurnian estetikanya sebelum ia melangkah masuk menembus gerbang batu utama Kerajaan Galuh.

Ia mengulurkan tangan kirinya, memeriksa permukaan kulit pergelangan tangannya yang mulus tanpa bulu halus. Luka irisan tipis tempat ia memberi makan darah segar kepada buah maja terkutuk semalam secara ajaib telah hilang menutup rata tanpa ada bekas cacat sedikit pun. Kamandaka tersenyum  penuh kemenangan di dalam batinnya; sistem gaib tubuhnya terbukti bekerja dengan sangat sempurna tanpa cela, mengunci sel-sel kulit kuning langsat wajah rupawannya agar tetap bersinar kencang menolak noda debu ladang kopi maupun kotoran tanah perjalanan sejauh berhari-hari melintasi batas luar negeri Sunda.

Langkah kaki kuda sewaan membawa Kamandaka melintasi jalur perbukitan hijau Sunda dengan wibawa langkah seorang pangeran tersembunyi yang siap menjemput takhtanya di bawah langit cakrawala. Perjalanan berhari-hari menuju ibu kota Kerajaan Galuh tidak membuat fisik tegap bidangnya tampak lelah, bungkuk, atau kotor oleh debu jalanan; sistem gaib tubuhnya seolah bekerja stabil menjaga pesona fisiknya tetap segar menawan sepanjang jalan lintas daerah. Keharuman mistis mawar dari rambut hitamnya tetap menguar pekat menembus celah jendela kereta, menyapu hawa perbukitan yang kering pengap dengan wewangian alami yang menolak layu.

Lihat selengkapnya