KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #15

BAB 15: Memasuki Gerbang Megah Kota Raja

Matahari pagi di langit ibu kota Kerajaan Galuh tidak terbit dengan kelembutan kabut yang biasa menyelimuti rumah tinggal reyot di lereng Sindang Kasih. Di sini, berkas sinarnya jatuh menghantam permukaan dinding-dinding batu raksasa dengan ketajaman yang benderang, memantulkan kilauan marmer kelabu dan ornamen ukiran cakra rahayu kencana yang bertakhta di sepanjang pembatas wilayah keraton. Udara pagi tidak lagi membawa wewangian alami dari tanah basah ladang kopi, melainkan dipenuhi oleh bau dupa cendana yang dibakar di altar-altar pemujaan para bangsawan, berbaur dengan riuh rendah suara tapak kaki kuda dan derit roda kereta kencana milik kaum menak yang berlalu lalang membelah kesibukan kota raja.

Begitu Kamandaka melangkah kaki melewati pintu gerbang batu raksasa ibu kota Kerajaan Galuh, indera penglihatannya langsung dimanjakan oleh kemegahan peradaban kota raja yang selama ini hanya ada di dalam angan-angannya. Jajaran rumah panggung bangsawan yang megah dengan tiang-tiang jati sepuh berlapis ukiran emas, menara keraton yang menjulang tinggi menantang cakrawala, dan riuh rendah aktivitas perdagangan di pasar kain menciptakan atmosfer kekuasaan yang kian membakar ambisinya yang dalam. Ini bukanlah sebuah desa miskin tempat ia harus menyembunyikan kesempurnaan raganya dari cemoohan buruk para tetangga; ini adalah panggung sandiwara raksasa yang sengaja disediakan takdir khusus untuk menyambut kedatangan sang pemilik ketampanan abadi.

Kamandaka berjalan dengan kepala terangkat tegak di tengah kerumunan massa yang berjejal di sepanjang trotoar batu, membiarkan wewangian mawar gaib dari rambut hitam legamnya menyebar memikat perhatian para pelayan wanita istana yang sedang berlalu lalang membawa nampan perak berisi buah-buahan. Setiap kali baju pangsi hitam barunya yang mencetak tegap bidang otot dadanya bergeser ditiup angin, keharuman mistis itu meledak menyapu hawa jalanan yang berdebu, memaksa siapa saja yang berada di dekatnya untuk memutar tubuh dan terpaku diam menatap takjub. Kamandaka menikmati setiap detik dari kehebohan tampilan tersebut dengan seulas senyuman santun menawan luar yang teramat sangat dingin, merasa bahwa tiket emas ketampanannya telah resmi membuka pintu gerbang kemenangan pertamanya pagi ini.

Di belakang langkah tegap Kamandaka, Suarsih melangkah perlahan dengan kepala menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajah pucatnya di balik hela kain kebaya usangnya yang longgar. Tangannya yang kurus mencengkeram erat tas kain berisi sebutir buah maja hitam berurat darah, merasakan bagaimana getaran stabil dari buah gaib tersebut semakin hari kian menguat berdegup selaras dengan detak jantung di dalam dada Kamandaka. Bagi Suarsih, kemegahan istana Galuh ini tidak memancarkan pesona keindahan sedikit pun; tempat bernaung baru mereka ini justru terasa seumpama sebuah penjara bawah tanah yang siap melumat habisĀ  kemanusiaannya.

"Jang, lihatlah ke arah menara pengawas di sebelah barat daya," bisik Suarsih dengan nada suara yang teramat sangat rendah, mencoba memperingatkan Kamandaka tanpa memicu kecurigaan dari para penjaga tombak baja di sekeliling mereka. "Sejak kita melewati gerbang batu utama tadi, sepasang mata tajam dari para telik sandi istana tidak pernah berhenti mengawasi pergerakan kita. Mereka tidak menatapmu dengan kekaguman para perawan desa, melainkan dengan ketajaman dingin para algojo yang siap mencium adanya bau sekutu dari luar wilayah kota raja."

Lihat selengkapnya