"Siapa pemuda beraroma mawar yang berani melangkah masuk ke tengah arena pembantaian ksatria ini dengan pakaian sehalus sutra menak tanpa ada satu pun bekas luka di wajahnya?"
Suara bisikan parau dari seorang ksatria bertubuh raksasa dari wilayah Galuh barat memecah keheningan ganjil yang mendadak mengunci meja pendaftaran agung. Nada bicaranya sarat akan cemoohan buruk, namun matanya tidak bisa menyembunyikan getaran ngeri kecemburuan massal yang langsung membakar kegelapan dadanya. Ksatria itu mencengkeram erat hulu gada besi raksasanya yang dipenuhi noda darah kering sisa pertempuran perbatasan, mencoba mengusir aura magis ketampanan Kamandaka yang seolah-olah mampu melunakkan kekerasan batu marmer lantai istana dalam hitungan detik.
Kamandaka tidak membalas ucapan ksatria otot tersebut dengan tatapan amarah; ia tetap melangkah tegap maju mendekati meja pendaftaran dengan gerakan tangan yang teramat sangat anggun, dingin, dan menawan seumpama satria Arjuna turun menantang maut takdir bumi. Baju pangsi hitam barunya yang rapi bersih halus mencetak sempurna bentuk dada bidang dan otot lengan kokohnya yang putih bersih mulus menolak noda debu arena. Ketika ia berhenti tepat di depan barisan penjaga tombak baja, seketika atmosfer bising udara siang di sekitar meja pendaftaran langsung hening seketika, mengunci seluruh nalar sehat ratusan manusia perkasa yang sedang berjejal mengantre.
Lapangan alun-alun utama istana Galuh telah disulap menjadi arena pendaftaran sayembara ksatria agung yang teramat sangat padat dan bising oleh kehadiran ratusan pemuda perkasa dari berbagai penjuru negeri Sunda. Mereka datang dengan membawa senjata pusaka andalan mereka; mulai dari gada besi raksasa, tombak panjang, hingga keris tajam berwibawa bertatahkan logam hitam. Tubuh mereka kekar, berotot besar, berambut rimbun sekujur tubuh, dan berwajah garang penuh bekas luka pertempuran sejati. Namun, begitu Kamandaka menampakkan dirinya di bawah terik matahari siang, seluruh dominasi kegarangan fisik para ksatria otot lainnya langsung runtuh digeser oleh kesempurnaan tampilan raganya yang melintasi batas nalar manusia biasa.
Para petugas pendaftaran istana, yang terdiri dari para resi agung dan menteri sepuh berwajah keriput, terperangkap dalam rasa takjub yang teramat sangat luar biasa mendalam saat menatap wajah tanpa cela milik Kamandaka. Mereka membeku di atas kursi jati mereka, pena bulu angsa di tangan mereka berhenti bergerak di atas perkamen kulit lembu suci, tidak mampu mengeluarkan kata-kata tata krama istana selama beberapa menit. Mereka belum pernah melihat sesosok pemuda jelata dari lereng gunung yang memiliki ketampanan mutlak melintasi batas keindahan para pangeran menak keraton tinggi; sebuah pesona yang mematikan nalar sehat sistem administrasi militer kerajaan fajar ini.
Keheningan di bawah arena tidak bertahan lama sebelum badai histeria publik yang lebih besar pecah membahana membelah langit cakrawala kota raja. Pekikan kagum dan bisik-bisik histeris dari para wanita bangsawan, putri menteri, dan para pelayan wanita istana yang menonton dari atas balkon-balkon emas istana langsung pecah membahana memenuhi seisi arena sayembara. Mereka berjejal di pinggir pagar marmer, melambaikan kain selendang sutra warna-warni mereka ke udara, mengabaikan seluruh teguran ketat dari para pengawal bendo soga demi bisa mencuri pandang ke arah wajah rupawan Kamandaka yang memukau.