KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #17

BAB 17: Munculnya Rasa Cemburu Para Pesaing

Matahari hari pertama pertempuran sayembara terbit dengan membawa hawa panas yang teramat sangat menyengat, memanaskan marmer-marmer kelabu alun-alun utama istana Kerajaan Galuh hingga memancarkan fatamorgana yang membakar pandangan mata manusia. Di tengah lapang hulu istana, bau keringat ratusan lelaki perkasa berbaur pekat dengan aroma minyak kelapa penolak karat senjata dan asap pembakaran dupa belerang yang sengaja dipasang di setiap sudut menara pengawas istana. Atmosfer udara siang itu tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi kelembutan alam; yang ada hanyalah gairah persiangan militer yang sarat akan aroma kematian nyata yang siap tumpah di atas lantai tanah alun-alun.

Dominasi tampilan yang diraih oleh Kamandaka tanpa perlu memeras keringat pertempuran melahirkan gelombang rasa cemburu dan kebencian yang teramat sangat pekat di dalam dada para pesaing ksatria lainnya. Sejak fajar menyengat undakan tangga barak penginapan, nama Kamandaka telah menjadi racun yang merusak ketenangan batin para pendekar menak tinggi. Mereka yang telah menghabiskan belasan tahun hidupnya menempa otot di dalam barak militer, membiarkan sekujur tubuh mereka dipenuhi bekas luka tebasan pedang demi kehormatan ksatria sejati, merasa teramat sangat terhina melihat bagaimana seorang pemuda jelata berpakaian pangsi hitam rapi bersih halus mampu mencuri seluruh panggung perhatian utama publik luar hanya dengan modal seulas senyuman santun menawan luar.

Para ksatria otot itu memandang Kamandaka sebagai ancaman ganjil yang merusak kehormatan arena sayembara ksatria sejati, sebuah anomali rupa yang tidak seharusnya diizinkan berdiri sejajar di bawah panji kebesaran Gusti Ratu Galuh. Sorak-sorai histeris dari para wanita bangsawan yang kian hari kian membara di atas balkon-balkon emas istana, memanggil nama Kamandaka berkali-kali sembari melemparkan kelopak bunga mawar segar ke arah undakan kaki sang pemuda pesolek, kian membakar api kedengkian di dalam lubang dada para pendekar dari berbagai penjuru negeri Sunda. Mereka merasa martabat keperkasaan mereka seolah-olah sedang diinjak-injak oleh daya pikat ketampanan anak petani kopi dari lereng Sindang Kasih tersebut.

"Dia hanyalah pemuda pesolek desa yang salah masuk arena! Tempatnya adalah di kamar rias wanita, bukan di sini memegang senjata!" teriak seorang pendekar bertubuh raksasa dari wilayah pegunungan selatan sembari melayangkan tatapan mata penuh ancaman pembunuhan yang tajam ke arah rahang kokoh Kamandaka. Pendekar raksasa bernama Ki Raksawana itu melangkah maju menembus barisan, membusungkan dadanya yang rimbun dipenuhi bulu halus kasar dan bekas kapalan pertempuran, sembari menghentakkan gada besi raksasanya ke atas lantai batu marmer hingga menimbulkan suara benturan keras yang bergaung memecah sunyi bising alun-alun.

Kamandaka yang sedang berdiri tegap merapikan letak bendo kain soganya di depan barisan penjaga tombak baja tidak membalas ancaman pembunuhan Ki Raksawana dengan getaran takut manusianya. Rahang kokoh wajah tanpa celanya tetap mengatup keras penuh keangkuhan narsistik gila yang telah sakit akut meracuni seluruh pikiran waras jiwanya sejak dari rumah panggung lereng gunung. Ia justru memutar tubuh tegapnya dengan gerakan yang teramat sangat anggun, dingin, dan menawan seumpama satria Arjuna yang sedang menatap seonggok lumpur gilingan kopi kotor di bawah undakan kakinya, membalas tatapan garang sang pendekar raksasa dengan sepasang mata tajam yang mematikan pesona tampilannya.

Keharuman mistis aroma mawar dari rambut hitam legam Kamandaka seketika menguar pekat terbawa embusan angin siang yang panas, menyapu bau busuk keringat badan Ki Raksawana dengan wewangian murni yang menolak layu oleh pengaruh hawa kotor luar. Kamandaka tersenyum dingin penuh kemenangan sejati di balik ketenangan wajah rupawannya yang kuning langsat kencang sehalus kelopak kenanga mekar. Bagi dirinya, kebebasan dari seluruh rasa cemas spiritual telah ia kunci rapat semalam melalui ritual perjanjian darah bersama sebutir buah maja hitam berurat darah yang sukmanya terus berdenyut stabil di dalam tas kain kecil pengawalan pelayan pribadinya, Suarsih.

Lihat selengkapnya