KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #18

BAB 18: Kesempurnaan Tubuh Tanpa Keringat

Matahari siang di atas ibu kota Kerajaan Galuh seolah-olah bergeser turun beberapa depa dari cakrawala, memancarkan gelombang hawa panas yang teramat sangat ekstrem hingga mampu melelehkan permukaan aspal tanah merah alun-alun utama. Udara di sekitar kompleks pertahanan istana terasa begitu pengap, gersang, dan dipenuhi oleh kepulan debu kering yang menyesakkan rongga paru-paru. Tidak ada satu pun embusan angin perbukitan yang diizinkan merembes masuk melewati dinding-dinding batu marmer kelabu setebal beberapa bentangan tombak; yang ada hanyalah ujian ketahanan fisik yang sengaja didesain oleh kelicikan para menteri istana untuk menyaring siapa saja ksatria sejati yang layak mengawal Ratu Penguasa.

Babak pertama sayembara ksatria agung dimulai dengan ujian ketahanan fisik di bawah terik sengatan matahari siang yang membakar lapangan alun-alun utama istana Galuh dengan sangat kejam tanpa ampun. Para peserta diwajibkan berdiri tegak dengan posisi kuda-kuda militer yang kokoh sembari memikul balok kayu jati berat berukuran puluhan kilo di atas pundak tegap mereka selama berjam-jam, tanpa diizinkan meminum air setetes pun atau sekadar menggeser letak bendo ikat kepala mereka. Beban kayu jati yang telah direndam minyak belerang tersebut kian hari kian terasa seumpama bongkahan batu karang raksasa yang siap meremukkan susunan tulang belulang dan jaringan otot raga para pendekar dari berbagai penjuru negeri Sunda.

Satu demi satu para pendekar berotot besar, yang tubuh kekarnya dipenuhi bulu halus kasar dan kapalan bekas pertempuran militer, mulai tumbang berjatuhan di atas tanah merah dengan tubuh yang mandi keringat dan napas yang terengah-engah. Mereka mengerang perih menahan linu yang membakar persendian lutut mereka, muntah cairan empedu karena didera rasa haus gersang yang mematikan nalar sehat kemanusiaan mereka. Namun, di tengah hamparan kegagalan para pendekar tersebut, Kamandaka tetap berdiri tegak dengan posisi seimbang sempurna di barisan paling depan, seolah-olah beban kayu jati berat yang memikul di atas pundaknya hanyalah selembar kain selendang sutra ringan pemberian wanita menak istana.

Yang kian membuat para juri istana, resi agung, dan penonton borjuis di atas balkon emas terperangkap dalam rasa takjub tak percaya adalah kondisi fisik Kamandaka sepanjang ujian ketahanan ekstrem tersebut berlangsung selama berjam-jam lamanya. Kulit kuning langsat di wajah tanpa celanya menolak untuk memerah terbakar sengatan matahari siang yang panas membakar, dan tidak ada setetes pun keringat bau yang keluar membasahi baju pangsi hitam barunya yang rapi. Pakaian tenun terbaik hasil tabungan keluarga petani kopi di lereng Sindang Kasih itu tetap kering, memancarkan kehalusan yang menawan menolak noda debu arena pertempuran.

Wajah rupawannya tetap memancarkan kesegaran yang teramat sangat menawan dengan seulas senyuman santun yang sangat tenang berwibawa, menantang langsung pandangan mata tajam Patih Bimaraksa yang sedang mengawasinya dari atas kursi balairung. Sihir ketampanannya kian hari kian bersinar terang benderang di bawah terik siang yang membakar bumi, memancarkan daya pikat yang membuat ratusan perawan kaum menak dan pelayan wanita istana kian histeris membara di dalam dada mereka. Mereka melemparkan ronce bunga mawar segar ke undakan kakinya, mengira mereka sedang melihat sesosok batara asmara yang memiliki tubuh tanpa cela, titisan langsung dari langit khayangan tertinggi.

Lihat selengkapnya