KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #19

BAB 19: Bidikan Tepat Sasaran Sang Arjuna

Langit di atas ibu kota Kerajaan Galuh perlahan-lahan mulai berubah rupa menjadi warna jingga pekat seumpama genangan darah segar yang tumpah membasahi pucuk-puncak menara tinggi istana agung. Hawa panas matahari siang tadi membakar bumi mulai berganti dengan embusan angin sore perbukitan yang bertiup kencang, membawa debu-debu kering sisa runtuhan material bangunan dari arah luar gerbang batu. Atmosfer udara di sekitar lapangan alun-alun utama terasa kian hari kian menegangkan, dipenuhi oleh kepulan asap dupa cendana yang berbaur dengan ketegangan psikologis ratusan manusia perkasa yang menanti babak ujian ksatria berikutnya.

Memasuki babak kedua sayembara ksatria agung sore harinya, para peserta diuji kemampuan bertempur jarak jauh menggunakan senjata busur panah tradisional Sunda. Target sasaran berupa buah maja kecil diletakkan di ujung lapangan alun-alun dalam jarak yang teramat sangat jauh melintasi batas penglihatan manusia biasa biasa. Kecepatan angin sore yang tidak stabil menjadi rintangan militer yang teramat sangat sulit ditaklukkan oleh para ksatria. Banyak pendekar hebat yang anak panahnya meleset jauh tertiup angin perbukitan atau jatuh sebelum mencapai target sasaran, memicu kekecewaan mendalam bagi para menteri yang duduk di kursi kebesaran juri pengawas sayembara.

Namun, kesunyian yang mencekam jiwa di sekitar lapangan mendadak koyak total ketika nama Kamandaka dipanggil lantang oleh petugas pendaftaran istana. Riuh sorak-sorai dukungan dari para wanita auditorium, putri menteri, dan pelayan wanita istana kembali menggema memecah langit sore kota raja. Mereka berjejal di pinggir pagar, melambaikan kain selendang sutra mereka dengan gairah yang kian membara di dalam dada melihat tubuh tegap Kamandaka melangkah keluar dari balik bayangan barak penginapan paviliun. Kehadiran fisik Kamandaka dalam sekejap telah mencuri kembali seluruh perhatian, menggeser dominasi kegarangan fisik para pendekar lainnya.

Kamandaka melangkah maju ke garis batas bidik dengan gerakan kaki tegap yang memancarkan kegagahan ksatria tersembunyi yang melintasi kasta kemiskinan lereng gunung Sindang Kasih. Ia mengangkat busur panah hiasannya yang terbuat dari jati, menarik tali busur dengan tangan halusnya yang putih bersih mulus, menaikkan rasa percaya diri wajah rupawannya di bawah siraman cahaya jingga sore hari.

Lihat selengkapnya