"Apakah kau mengira bahwa ornamen dinding kayu jati berlapis emas ini bisa menyembunyikan getaran ganjil dari langkah kaki para tikus istana di luar sana, Suarsih?"
Suara Kamandaka bergaung merdu namun sedingin es gunung, memecah kesunyian malam yang mencekam di dalam kamar paviliun mewah tempat bernaung sementara mereka. Nada bicaranya beralun tenang tanpa rasa takut sedikit pun, sementara sepasang matanya yang tajam tetap mengunci pantulan wajah tanpa cela milik dirinya sendiri di permukaan cermin perunggu rahasianya yang jernih berkilat-kilat. Kamandaka sedang bersila polos setengah badan, membiarkan bentuk dada bidangnya yang kuning langsat sehat terpapar langsung oleh pendar cahaya lampu minyak yang bergetar ditiup angin malam perbukitan dari celah ventilasi.
Suarsih yang duduk bersila di atas lantai tanah tepat di samping amben kasur empuk, mendongakkan wajah layunya dengan batin yang kian hari kian dilingkupi teror ketakutan. "Hamba merasakan ada anyir maut yang kian meruncing tajam mengepum area domestik kita malam ini, Jang Kamandaka," bisik Suarsih lirih dengan air mata yang hampir menetes membasahi kain kebayanya yang lusuh.
Sreett!
Belum sempat Kamandaka membalas ucapan pelayan pribadinya, sesosok bayangan hitam bergerak secepat kilat ksatria melompat masuk menembus tirai jendela paviliun yang terbuka. Sesosok orang suruhan Ki Demang Koswara yang mengenakan pakaian hitam dan topeng kulit legam merangsek maju tanpa suara. Target utamanya bukan menghujamkan belati kuningan ke arah Kamandaka, melainkan mengarahkan cakar tangannya secara membabi buta untuk merebut paksa tas kain kecil tertutup yang selalu didekap erat di dalam pelukan dada Suarsih.
Suarsih menjerit histeris ketakutan saat cakar tangan orang suruhan ituĀ berhasil mencengkeram ujung kain tasnya. Namun, sebelum tas itu terlepas dari dekapan pelayan pribadinya, Kamandaka telah bergerak melesat maju dengan kecepatan yang melampaui batas nalar manusia. Tangan kirinya yang putih bersih mulus tanpa cela mencengkeram kuat pergelangan tangan sang penyerang, memutar urat saraf lengannya dengan satu sentuhan ksatria yang teramat sangat kuat hingga menimbulkan suara retakan tulang yang mengerikan bergaung memecah sunyinya malam.