"Apakah kau mengira bahwa seratus ksatria otot itu mampu menyentuh ujung baju pangsi hitamku ini, Suarsih?"
Suara Kamandaka bergaung rendah namun sarat akan keangkuhan yang menolak kalah dari takdir buruk. Nada bicaranya beralun merdu, memecah keheningan sunyi yang mencekam di dalam barak penginapan paviliun belakang istana Galuh menjelang fajar hari penutupan sayembara. Sepasang matanya yang tajam tetap mengunci pantulan rahang kokoh dan wajah tanpa celanya di depan permukaan cermin perunggu rahasianya yang retak, menikmati pancaran kesegaran kulit kuning langsatnya yang menolak menua atau rusak oleh kelelahan pertempuran sejauh ini.
Suarsih yang sedang bersujud di lantai papan dekat undakan kakinya tidak berani mendongakkan wajah pucatnya sedikit pun. Kedua tangannya mencengkeram erat tas kain berisi buah maja hitam berurat. "Hamba hanya mencemaskan kelicikan Patih Bimaraksa, Jang," bisik Suarsih. "Gada besi pendekar raksasa dari wilayah selatan itu siap memotong dada bidang Anda di tengah arena alun-alun fajar ini."
Babak final sayembara ksatria agung Kerajaan Galuh akhirnya resmi dimulai dengan pertarungan satu lawan satu menggunakan senjata gada kayu tumpul di tengah arena alun-alun utama yang dipadati oleh kehadiran ribuan penonton dari kalangan masyarakat umum dan borjuis kota raja. Pendar cahaya fajar yang berwarna jingga pekat seumpama genangan darah segar membasuhi permukaan marmer-marmer kelabu undakan tangga istana, menciptakan atmosfer pertempuran yang teramat sangat panas, bising, dan menegangkan. Di atas balkon-balkon istana, tirai sutra kamar tidur utama Ratu Penguasa terbuka lebar, menampilkan sosok penguasa wanita yang tengah menatap takjub tersirep gairah mistis ke arah Kamandaka.