KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #22

BAB 22: Tatapan Mata Sang Ratu Penguasa

"Bawalah pemuda beraroma mawar itu menghadap langsung ke hadapan takhta kebesaranku di balairung agung sekarang juga, Patih. Mataku belum pernah menyaksikan raga seorang anak manusia yang begitu sempurna melintasi batas keindahan para dewa khayangan."

Suara sang Ratu Penguasa Galuh beralun merdu, namun memiliki gema otoritas mutlak yang tidak menerima bantahan sedikit pun dari pilar-pilar marmer balkon tinggi istana. Nada bicaranya bergetar ganjil, sarat akan gairah kekaguman yang teramat sangat pekat, meluruhkan seluruh ketegangan militer yang sempat mengunci jalannya arena sayembara ksatria agung sore itu. Sang Ratu bangkit berdiri dari singgasananya yang bertatahkan ratna mutu manikam, mengangkat tangan kanannya memberikan tanda berupa lambaian selendang sutra kuning, sebagai simbol bahwa seluruh rangkaian ujian ketangkasan fisik telah resmi selesai ditutup dengan lahirnya ksatria baru terhebat tanah Sunda.

Dari atas balkon takhta kebesaran istana yang megah tinggi, sang Ratu Penguasa Galuh duduk menatap ke arah tengah arena alun-alun sejak buta fajar tadi, mengunci pandangan matanya hanya pada tubuh tegap dan dada bidang milik Kamandaka. Keberhasilan Kamandaka memenangkan sayembara dengan menjatuhkan pendekar raksasa Ki Raksaweni dalam satu pukulan balik yang telak tidak hanya membuktikan kegagahan fisiknya yang tiada tanding, melainkan telah sepenuhnya merenggut sisa kesadaran batin dan akal sehat sang penguasa wanita yang tengah dirundung sepi pasca-gugurnya sang Prabu tercinta di medan laga barat. Sihir ketampanan Kamandaka telah menjelma menjadi penyirep gaib yang melunakkan kekerasan hati sang penguasa wanita dalam hitungan detik.

Patih Bimaraksa yang berdiri di samping singgasana Ratu hanya bisa membungkuk dalam-dalam dengan wajah berkerut menahan geram dan amarah. Gigi rahangnya mengatup rapat menahan kebencian yang kian meruncing tajam; ia melihat bagaimana intrik yang ia rancang bersama Ki Demang Koswara semalam hancur berantakan di hadapan kekuatan Kamandaka. "Titah Gusti Ratu akan segera hamba laksanakan bersama pasukan pengawal utama," jawab sang Patih dengan nada suara rendah parau seumpama gesekan batu kuburan yang menyembunyikan rencana pembunuhan baru.

Lihat selengkapnya