KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #23

BAB 23: Memasuki Kamar Mewah Keraton

"Apakah kau melihat jajaran cermin perunggu di sekeliling dinding jati ini, Suarsih? Permukaannya begitu jernih memantulkan kesempurnaan ku tanpa ada satu pun retakan buruk seumpama cermin perunggu di rumah panggung kita dulu."

Suara Kamandaka bergaung merdu, berbaur dengan kehangatan asap dupa cendana yang menguar pekat memenuhi seisi paviliun mewah pribadinya. Ia berdiri tegak mematut diri di tengah ruangan yang pengap oleh aroma kemewahan keraton utama Galuh, membiarkan tubuhnya yang terbungkus jubah sutra halus pemberian sang Ratu terpapar langsung oleh pendar cahaya lampu minyak yang berkilat-kilat benderang di atas lantai marmer kelabu.

Suarsih, wanita paruh baya yang secara resmi (setelah diminta oleh Kamandaka) ditunjuk pihak manajemen istana untuk menjadi jongos pelayan pribadi sang pengawal baru. Suarsih adalah seorang wanita paruh baya yang teramat sangat santun, tahu tata krama, dan memiliki tingkat kesetiaan kerja yang luar biasa tinggi terhadap tuannya. Setiap fajar menyengat undakan tangga marmer kompleks keraton, Suarsih dengan telaten menyiapkan mangkuk kuningan besar berisi air mawar hangat untuk basuhan wajah Kamandaka, serta menyisir rambut hitam legamnya agar tetap rapi memancarkan wewangian mawar sejati yang menolak layu oleh pengaruh hawa kotor udara kota raja.

Suarsih melangkah perlahan menembus tirai keemasan sembari membawa sebuah nampan perak kuno. Sepasang matanya yang penuh ketabahan menunduk dalam-dalam, menatap lantai dengan tubuh yang gemetar menahan getaran spiritual. "Kamar ini memang teramat sangat megah, Jang Kamandaka," jawab Suarsih dengan suara parau bergetar pelan, melirik ngeri ke arah tas kain kecil tertutup di atas meja rias tempat sebutir buah maja hitam terus berdenyut. "Namun, hamba mohon dengan sangat, jangan biarkan kilau perunggu ini mengunci mati ingatan Anda pada jalan pulang menuju lereng gunung Sindang Kasih."

Lihat selengkapnya