Kehadiran Kamandaka di sisi sang Ratu dalam waktu singkat langsung memicu kecemasan politik yang teramat sangat besar di dalam dada Patih Bimaraksa, orang kuat nomor dua di balik takhta Galuh. Sang Patih yang berwajah dingin dan penuh kelicikan melihat Kamandaka bukan sebagai ksatria militer sejati, melainkan sebagai pemuda siluman pesolek yang memanfaatkan sihir ketampanan fisik dan daya pikat gaib aroma mawar rambutnya untuk mengendalikan pikiran Ratu demi ambisi takhta yang sedalam jurang hulu sungai purba. Sebagai seorang veteran perang perbatasan yang separuh usianya dihabiskan untuk memeras tenaga dan pikiran di atas tanah pertempuran, Patih Bimaraksa merasa martabat seluruh ksatria menak tinggi telah diinjak-injak oleh anak petani kopi jelata dari lereng gunung Sindang Kasih.
Patih Bimaraksa mulai menyusun berbagai intrik politik tersembunyi di koridor istana guna menjatuhkan posisi Kamandaka sebelum kian kuat mengakar dalam di dalam lingkaran inti kekuasaan keraton utama. Ia tidak bergerak dengan pedang terbuka di tengah alun-alun, melainkan mengalirkan racun fitnah tak kasatmata melalui bisik-bisik rendah para menteri di ruang pengap paviliun belakang. Bagi sang Patih, keindahan fisik Kamandaka yang menolak tua adalah sebuah anomali spiritual ganjil yang harus dibedah dan dihancurkan hingga isi perutnya terburai di hadapan publik luar, guna mengembalikan kewajaran hukum alam dan stabilitas takhta yang kian hari kian pincang dilingkupi sihir asmara.
Dalam setiap rapat agung pemerintahan di balairung istana yang dihadiri oleh ratusan panglima perang berkuda dan pengawal berbendo soga, Patih Bimaraksa sengaja melayangkan berbagai pertanyaan tajam penuh sindiran yang menguji pengetahuan Kamandaka tentang strategi perang perbatasan barat atau tata kelola pajak kopi pedalaman Sunda. Sang Patih akan melangkah maju ke tengah permadani beludru merah, membetulkan letak keris pusaka logam hitamnya dengan tangan tua keriputnya yang bergetar menahan amarah, lalu mengarahkan sepasang mata tajamnya tepat ke arah posisi tubuh Kamandaka yang berdiri tegak di sisi kanan singgasana emas sang Ratu.