KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #25

BAB 25: Hadiah Senjata Keris Pusaka Emas

"Peganglah hulu logam murni ini, Kamandaka. Biarkan seluruh pasang mata para menteri yang membencimu melihat bahwa kekuasaanmu di dalam keraton ini dilindungi langsung oleh warisan pusaka tertinggi leluhur Galuh."

Suara sang Ratu Penguasa Galuh beralun merdu, menggetarkan keheningan pilar-pilar marmer balairung agung istana yang pengap ditiup asap dupa wangi cendana. Di atas singgasana emasnya yang megah tinggi, wajah sang penguasa wanita tampak memancarkan binar gairah kekaguman yang teramat sangat pekat, sepenuhnya tersihir oleh daya pikat gaib ketampanan Kamandaka yang berdiri tegak lurus seimbang sempurna di sisi kanannya. Sang Ratu mengulurkan kedua tangannya yang lentik halus, menyerahkan sebilah senjata pusaka asli kerajaan yang diletakkan di atas hamparan kain sutra kuning emas murni khusus pelindung ksatria pilihan keraton.

Kamandaka menunduk hormat dengan gerakan tangan yang teramat sangat anggun, dingin, dan menawan seumpama satria Arjuna yang sedang menerima wahyu khayangan di bawah langit malam bulan mati. Sepasang matanya yang tajam langsung menyala terang benderang menatap kemewahan hadiah agung yang kini berada di depan indera penglihatannya. "Hamba menerima anugerah pusaka suci ini dengan segenap jiwa ksatria hamba, Gusti Ratu," jawab Kamandaka dengan nada suara merdu beralun sangat tenang, memamerkan seulas senyuman santun luar yang sangat dingin mematikan pesona tampilannya, membuat beberapa perawan kaum menak istana yang menonton dari atas balkon emas kembali histeris membara menahan napas.

Untuk memperkuat wibawa dan keamanan pengawal kepercayaannya dari ancaman intrik politik para menteri yang kian hari kian meruncing tajam, sang Ratu Penguasa memang sengaja menjatuhkan keputusan agung dengan menghadiahkan sebilah keris pusaka asli kerajaan berhulu emas murni khusus kepada Kamandaka fajar ini. Langkah politik berdarah dingin sang Ratu tersebut seketika meruntuhkan seluruh wibawa militer para panglima perang di bawah kendali Patih Bimaraksa. Jabatan pengawal pribadi yang awalnya dianggap remeh kini telah resmi bertransformasi menjadi posisi kekuasaan mutlak yang setara dengan pangeran menak tinggi, berkat sebilah logam tajam warisan leluhur Pasundan yang kini berpindah tangan ke atas pinggang tegap sang anak petani kopi.

Keris pusaka agung tersebut bernama Kyai Naga Liman, sebuah senjata tajam legendaris yang memiliki bilah baja hitam berluk ganjil yang memancarkan aura magis kewibawaan ksatria sejati yang sangat tinggi tajam menembus dimensi gaib ruang waktu. Bilah logamnya yang hitam legam tempaan para empu purba seolah-olah mampu menyerap seluruh pendar cahaya lampu minyak keraton, memantulkan bayangan sepasang mata tajam dan Kamandaka dengan ketajaman tampilan yang luar biasa sempurna. Ronce bunga melati segar yang menjuntai harum digantungkan dengan sangat telaten di gagang hulunya yang bertatahkan ratna mutu manikam, bergoyang anggun menawan setiap kali Kamandaka melangkah memimpin patroli keamanan teras istana utama.

Lihat selengkapnya