Malam ketujuh pesta penobatan agung ditutup dengan keheningan yang teramat sangat pekat, dingin, dan dipenuhi oleh kabut tipis asap dupa cendana yang meliuk seram di sepanjang koridor teras istana Galuh. Cahaya lampu minyak yang bergetar ditiup angin malam perbukitan memantulkan kilauan marmer kelabu, memahat bayangan-bayangan panjang para pengawal bertombak baja yang berdiri kaku seumpama arca batui. Di atas langit cakrawala kota raja, sinar bulan mengunci kegelapan malam dalam pusaran gaib yang mencekam jiwa, menyembunyikan intrik politik berdarah dingin dan dendam kesumat para menteri yang kian hari kian meruncing tajam menanti runtuhnya kekuasaan Kamandaka.
Pemberian keris pusaka emas Kyai Naga Liman kian membuat keangkuhan di dalam diri Kamandaka melonjak kian menggila tanpa ada batas nalar sehat manusia biasa lagi. Setiap kali ia melangkah memimpin patroli keamanan teras istana utama, ronce bunga melati segar yang menjuntai harum di gagang hulu kerisnya bergoyang anggun menawan, menyatu dengan keharuman mistis aroma mawar dari rambut hitam legamnya yang menolak layu oleh pengaruh hawa kotor luar. Kamandaka menyadari sepenuhnya bahwa sang Ratu Penguasa telah berada di bawah kendali pesona sihir ketampanan fisiknya secara mutlak lahir batin, menjelma menjadi seorang hamba cinta yang menyerahkan seluruh warisan kedaulatan takhta demi memuja tegap sang anak petani kopi.
Ia sering menghabiskan waktu berjam-jam di depan jajaran cermin perunggu besarnya yang jernih berkilat-kilat di dalam kamar paviliun mewah pribadinya, mematut diri dengan kepuasan narsistik yang telah sakit akut meracuni relung kesadarannya yang takabur. Kamandaka melepaskan baju pangsi hitam barunya secara telaten, memeriksa kulit kuning langsat nya serta bagian bawah polosnya untuk memastikan alat kejantannya yang putih bersih besar dan panjang tetap terjaga bersih mulus tanpa noda. Perawatan tubuh nya yang rutin itu memberikan rasa percaya diri bahwa ketampanan fisiknya adalah tuhan kecil pembawa kejayaan kekuasaan yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh pembusukan liang lahat yang kotor atau hancur dimakan usia waktu seumur hidup .
Kamandaka mulai sering membisikkan berbagai saran politik sepihak di telinga Ratu saat malam hari di dalam kamar tidur utama keraton yang beralaskan kasur sutra empuk. Di bawah pendar cahaya lampu minyak yang temaram ganjil, ia akan mencondongkan tubuhnya yang beraroma mawar pekat, menyusuri pundak halus sang penguasa wanita yang sedang mabuk tampilan, lalu mengalirkan racun fitnah untuk menyingkirkan siapa saja menteri yang pernah menghina kemiskinan hidupnya di sidang balairung agung istana kemarin siang.
"Gusti Ratu, apakah kau tidak melihat bagaimana tatapan mata penuh ancaman pembunuhan dari Patih Bimaraksa itu terus mengintai keselamatan kita setiap rapat agung?" bisik Kamandaka dengan nada suara merdu beralun sangat tenang namun teramat sangat tajam menusuk ulu hati, membelai rambut sang Ratu dengan jemari tangan kirinya yang putih bersih mulus tanpa noda getah kopi. "Copotlah jabatan menteri pertahanan militer tua bangka itu jika kau masih mendambakan kehangatan malam dekapanku di atas ranjang ini. Singkirkan pula para kroni pengawal bertopeng kulitnya dari seluruh sudut koridor belakang paviliun tinggal kita, jangan biarkan kekerasan hati ksatria mereka mengotori kemurnian tempat bernaung kita seumur hidup di bumi Pasundan."