KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #27

BAB 27: Firasat Tajam Sang Ksatria

Kesunyian malam di kompleks keraton utama Kerajaan Galuh kian hari kian terasa teramat sangat mencekam jiwa, seolah-olah sedang menyembunyikan pusaran badai kudeta militer yang siap meledak menghancurkan tatanan pemerintahan Sang Ratu. Angin malam perbukitan yang bertiup kencang membelah rimbunnya pohon cempaka liar tidak lagi membawa kesegaran udara pegunungan, melainkan yang terasa ketegangan politik tingkat tinggi. Di dalam kamar tidur pribadi rumah pengawasannya, Patih Bimaraksa duduk terdiam dengan sepasang mata tajam, menatap selembar perkamen kulit lembu suci berisi daftar nama para menteri yang baru saja dicopot jabatannya oleh titah Kamandaka.

Patih Bimaraksa yang kian terdesak oleh manuver politik sepihak Kamandaka akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan pintas berdarah dingin guna melenyapkan sang raja muda dari muka bumi Pasundan secepat mungkin. Melalui perantara seorang pelayan dapur istana yang telah disuap dengan tumpukan koin emas perak dari dalam koper tanah pribadinya, sang Patih memasukkan beberapa tetes racun misterius ekstrak daun hutan terlarang hulu sungai ke dalam cawan madu hangat yang biasa diminum oleh Kamandaka sebelum tidur malam. Cairan racun itu tidak memiliki warna ataupun bau yang kentara, namun memiliki kekuatan penghancur urat saraf dan ulu hati yang teramat sangat mematikan, yang mampu membuat jantung manusia biasa berhenti berdetak dalam hitungan detik tanpa meninggalkan bekas luka goresan tajam luar sedikit pun di atas kulit .

Cawan madu beracun berlapis emas murni khusus tersebut dibawa melangkah masuk oleh sang pelayan dapur dengan langkah kaki senyap menembus koridor belakang, menuju kamar paviliun mewah pribadi Kamandaka yang gelap sunyi dilingkupi kepulan asap dupa wangi cendana istana. Setiap ketukan langkah kaki pelayan di atas lantai seolah menjadi hitungan mundur bagi berakhirnya riwayat ketampanan abadi sang pemuda pesolek jelata dari lereng Sindang Kasih. Patih Bimaraksa tersenyum licik dari balik bayangan menara pengawas, meyakini bahwa fajar esok hari tidak akan pernah lagi menyaksikan kehadiran Kamandaka berdiri membusungkan dada nya di sisi kanan singgasana emas sang Ratu Penguasa.

Malam itu, atmosfer udara di dalam kamar paviliun mewah Kamandaka terasa teramat sangat ganjil, pengap, dan berbau mistis yang tidak biasa bagi indera penciuman manusia biasa biasa. Kamandaka sedang berdiri tegak lurus seimbang sempurna di depan jajaran cermin perunggu besarnya yang jernih berkilat-kilat, melepaskan baju pangsi hitam barunya secara telaten demi mematut nya yang polos tanpa pakaian di bawah pendar cahaya lampu minyak yang bergetar. Ketika pelayan dapur istana melangkah masuk menembus tirai dengan tubuh gemetar, lalu menaruh cawan madu hangat di atas meja kayu jati tepat di bawah permukaan cermin besar, kenyamanan narsistik Kamandaka mendadak terusik sepenuhnya. Indera penciuman Kamandaka yang kian tajam menangis merasakan adanya aroma anyir kimia tersembunyi yang merusak wewangian mawar sejati rambut hitam legamnya dan keharuman ronce melati keris pusaka Kyai Naga Liman di pinggangnya. Bau anyir besi itu begitu menusuk ulu hati, seumpama aroma sisa pembantaian daging segar di atas altar jagal gaib hulu sungai hutan terlarang yang menuntut tumbal sukma dari jarak jauh.

Kamandaka memutar tubuh tegap nya dengan gerakan yang secepat kilat ksatria tersembunyi, mengunci posisi berdiri sang pelayan dengan sepasang mata tajam yang mematikan pesona tampilannya. Di bawah pendar cahaya lampu minyak yang temaram ganjil, ia melihat bagaimana rahang dan jemari tangan pelayan tersebut tampak bergetar hebat ketakutan menahan napas di hadapan pancaran aura magis ketampanannya. "Siapa yang menyuruhmu mengantarkan minuman yang berbau busuk anyir besi ini ke dalam ruang tengah tempat tinggalku, Pelayan?" tanya Kamandaka dengan nada suara teramat sangat dingin yang menusuk tajam hingga ke dalam susunan tulang belulang sang pesuruh.

Pelayan dapur istana yang tertangkap basah oleh firasat tajam sang ksatria baru seketika kehilangan seluruh kekuatan lutut untuk tetap berdiri tegak lurus di atas lantai marmer. Ia langsung jatuh berlutut bersujud di atas lantai papan tempat tinggal Kamandaka sembari menangis histeris memohon ampunan dengan tubuh ringkih yang berusujud ketakutan. Di hadapan keris pusaka berhulu emas Kyai Naga Liman yang berkilat-kilat seram memantulkan pendar cahaya gaib di pinggang Kamandaka, pelayan tersebut tidak berani lagi menyembunyikan skenario lyang dirancang oleh para menteri keraton.

Lihat selengkapnya