Satu minggu setelah pengumuman asmara yang mengguncang pilar-pilar tradisi tersebut, sebuah maklumat agung kerajaan kembali dikeluarkan, ditandatangani langsung oleh sang Ratu Penguasa menggunakan goresan tinta emas murni di atas lembaran perkamen kulit lembu suci. Maklumat itu menyatakan bahwa Kamandaka secara resmi diangkat dan dinobatkan menjadi Raja Pendamping Kerajaan Galuh dengan gelar kehormatan Prabu Anom Kamandaka. Sebuah kedudukan tertinggi yang menempatkan anak petani kopi jelata itu tepat satu jengkal di bawah mahkota kekuasaan mutlak seantero tanah Pasundan. Upacara penobatan akbar direncanakan akan digelar selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti menggunakan seluruh anggaran kas perak kerajaan, mengundang seluruh penguasa wilayah adat, para menak terhormat, serta ribuan rakyat Sunda untuk datang bersujud menyaksikan lahirnya pemimpin baru berwajah rupawan titisan dewa-dewa khayangan.
Sebagai bukti keangkuhan dan kesombongannya yang telah mencapai puncak tertinggi melintasi batas nalar sehat manusia biasa, Kamandaka tidak lagi sudi mengingat masa lalunya yang kumal sebagai buruh pemetik kopi Sindang Kasih. Alih-alih menyembunyikan asal-usul kasta rendahnya, narsisme gila yang akut di dalam relung sukmanya justru mendorongnya untuk memamerkan kejayaan barunya dengan cara yang paling menindas batin musuh-musuhnya. Ia memerintahkan sebuah pasukan kereta kencana istana bertatahkan perak murni, diiringi oleh puluhan prajurit berkuda pemegang tombak baja berkilat-kilat, untuk bertandang ke desa Sindang Kasih guna menjemput kedua orang tua kandungnya.
Rombongan megah yang beraroma mawar dan dikawal ketat itu membelah jalan setapak perkebunan kopi, melewati tikungan jalan tempat para perawan desa dulu sering pingsan tersirep pandangan matanya. Petani kopi jelata yang dulu hidup miskin di rumah panggung kumal, manusia-manusia bumi yang tangannya kasar oleh cangkul dan punggungnya melengkung legam oleh beban keranjang bambu, kini diboyong masuk ke dalam lingkaran keraton Galuh. Ki Tarmudi dan Nyai Suminar diturunkan dari kereta kencana dengan tubuh yang gemetar hebat menahan haru sekaligus kikuk. Mereka langsung diberikan pakaian sutra halus mewah corak paksi naga liman, diselimuti wewangian keraton yang mahal, dan ditempatkan di sebuah paviliun khusus bangsawan menak yang dinding-dinding kayunya diukir motif awan mendung lapis perak.
Derajat keluarga Kamandaka kini telah resmi terangkat naik ke kasta tertinggi negeri Pasundan. Kemiskinan hulu sungai yang dulu mengunci lembaran hidup mereka kini telah lumat total, berganti dengan limpahan peti-peti koin perak yang jauh lebih melimpah dibandingkan dengan harta pinangan milik Ki Permana yang dulu dilemparkan Kamandaka dengan kejam. Di selasar paviliun barunya, Nyai Suminar menangis bahagia sembari meraba kehalusan kain sutra di tubuh tuanya, menganggap ambisi gila yang dulu ia pupuk bersama anaknya di kamar gubuk reyot kini telah dibayar tunai oleh takdir dunia fana.
"Kau lihat sendiri sekarang, Kang?" bisik Nyai Suminar pada suaminya, matanya berbinar penuh ketamakan borjuis baru. "Anak kita benar-benar menjadi batara di istana ini. Ketampanannya adalah mata uang yang sanggup membeli seluruh takhta Galuh. Kau tidak perlu lagi memikul keranjang kopi ke pasar desa subuh-subuh."