Hari pertama upacara pernikahan agung dan penobatan Prabu Anom Kamandaka digelar dengan tingkat kemegahan yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah kerajaan Galuh. Alun-alun kota raja dalam sekejap berubah wujud menjadi lautan warna yang memukau mata, dipenuhi jajaran lampion warna-warni ganjil yang memancarkan pendar keperakan di bawah langit senja. Suara musik instrumen gamelan ghaib bertalu-talu tanpa henti, nadanya beralun merdu namun megah membelah angkasa, menggetarkan setiap pilar marmer kompleks istana utama. Di setiap sudut lapangan, bergentong-gentong madu manis dan nira pilihan disajikan secara gratis bagi seluruh rakyat yang datang, menciptakan atmosfer pesta pora yang menghapus ingatan tentang kasta kemiskinan di luar benteng batu kerajaan.
Di tengah kemegahan balairung agung yang dilingkupi aroma dupa cendana berlapis emas, Kamandaka duduk bersanding dengan sang Ratu Penguasa di atas singgasana emas kembar yang menjulang tinggi. Pemuda tujuh belas tahun itu mengenakan pakaian pengantin dari tenun benang emas murni khusus, sebuah mahakarya busana keraton yang mencetak dengan sangat jelas bentuk dada bidang tegap serta otot lengan kokohnya. Kesempurnaan tubuh yang ia miliki seumpama satria Arjuna yang sengaja diturunkan dari langit khayangan untuk merebut kendali takhta bumi Pasundan. Kulit kuning langsat di wajah tanpa celanya bersinar memantulkan kilauan lampu minyak, memancarkan pesona yang sanggup melumpuhkan kewarasan siapa saja yang berani menatap matanya dari jarak dekat.
Dari atas balkon tinggi singgasana takhta yang menghadap langsung ke arah alun-alun utama, Kamandaka menatap ke bawah dengan seulas senyuman sinis penuh kemenangan dingin yang terkunci rapat di rahang tegasnya. Di hadapannya, lautan manusia yang terdiri dari rakyat Galuh, para penguasa wilayah adat, hingga para pedagang menak bersujud serentak di atas tanah merah. Mereka menyembah dan mengagungkan nama Prabu Anom Kamandaka berulang-ulang kali dengan teriakan yang membahana, memecah kesunyian langit kota raja yang perlahan mulai digulung oleh kegelapan malam. Bersamaan dengan riuh rendah sembah takzim tersebut, jutaan kelopak bunga mawar dilemparkan ke udara oleh para pelayan wanita, memenuhi atmosfer udara dengan keharuman wangi mawar sejati yang seumpama aroma alami yang keluar dari pori-pori tubuh sang pengawal baru.
Kamandaka membusungkan dadanya, menghirup udara malam yang pekat oleh wewangian mawar dan asap dupa kerajaan dengan kepuasan ego yang teramat sangat menggila. Ia merasa benar-benar mabuk oleh pusaran kekuasaan mutlak, harta yang melimpah ruah di dalam peti-peti perak istana, serta pemujaan lahiriah tanpa batas yang kini berada sepenuhnya di bawah kendali jemari tangannya yang halus. Dalam puncak takaburnya, Kamandaka berbisik sombong di dalam batinnya bahwa ia telah berhasil mengakali hukum takdir dunia manusia biasa. Janji keabadian tubuh yang ia beli dari sebutir buah maja berdenyut di bawah akar pohon maja tua terbukti menjadi mata uang paling sakti yang membawanya melompati kubang kemiskinan Sindang Kasih menuju singgasana emas tertinggi.
Namun, di balik dinding kayu jati berukir motif awan mendung yang menjadi latar singgasana, sepasang mata tajam yang sarat akan strategi politik berdarah dingin terus mengunci setiap pergerakan tubuh tegap Kamandaka. Patih Bimaraksa duduk diam di barisan kursi menteri pertahanan yang posisinya kini telah digeser jauh ke sudut balairung yang gelap pengap ditiup hawa belerang. Tangan keriput sang patih tua bangka mencengkeram teramat sangat keras hulu keris pusaka logam hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih menahan geram amarah yang kian hari kian membakar lubang dadanya. Pengumuman hubungan asmara Ratu yang buta akibat berahi semalam telah meruntuhkan seluruh martabat militer yang ia bangun selama puluhan tahun di barak pertahanan.
"Dia tersenyum seolah-olah seluruh bumi Pasundan ini diciptakan khusus untuk menyembah sel kulitnya yang halus, Demang," bisik Patih Bimaraksa dengan nada suara parau seumpama gesekan batu kuburan kuno yang menusuk tajam indera pendengaran Ki Demang Koswara yang berdiri tegak di balik pundaknya. "Si pesolek jelata itu mengira ronce melati di gagang keris Kyai Naga Liman miliknya bisa melindunginya dari parang ksatria yang sakit hati. Dia tidak tahu bahwa malam penobatan tujuh hari tujuh malam ini sebenarnya adalah panggung sandiwara yang sengaja kita sediakan untuk menguburnya hidup-hidup."