Hari-hari berlalu sebagai Prabu Anom tidak lantas membuat Kamandaka merasakan kebahagiaan sejati di dalam lubang sukmanya. Di balik riuh rendah sorak-sorai rakyat yang memuja namanya di sepanjang alun-alun utama, ketakutan terbesarnya justru lahir dan membesar dari dalam kamar tidurnya yang paling megah. Kemegahan dinding paviliun yang terbuat dari kayu jati berukir motif awan mendung lapis perak murni terasa hambar, tertutup oleh kabut kecemasan yang kian hari kian akut merongrong waras manusianya. Kamandaka mendapati dirinya tidak lagi bisa menikmati kehangatan dekap berahi Sang Ratu Penguasa; pikirannya telah sepenuhnya disandera oleh satu musuh ghaib yang tak kasat mata namun bergerak linier tanpa bisa dihentikan oleh sebilah pedang ksatria mana pun.
Waktu.
Setiap pagi, saat pendar cahaya fajar yang berwarna jingga pekat baru saja menyengat undakan tangga marmer keraton, sebelum para pelayan datang mengetuk pintu membawakan mangkuk kuningan besar berisi air basuhan wajah, Kamandaka akan terburu-buru bangkit dari atas ranjang sutra empuk. Dengan raga polos tanpa pakaian selembar benang pun, ia melangkah ringkas mendekati jajaran cermin emas besar milik kerajaan hadiah pernikahan dari Ratu. Jemari tangannya yang halus bergetar hebat saat meraba setiap senti guratan rahang kokoh, kelopak mata, hingga ke sudut bibir tipisnya. Ia sangat takut menemukan adanya garis halus, bintik hitam, atau keriput pertama yang merusak estetika tampilan fisiknya yang putih bersih mulus menolak noda. Bagi Kamandaka, hilangnya ketampanan mutlak bukan sekadar tanda penuaan fisik biasa, melainkan sebuah kiamat kecil yang berarti hilangnya dasar pemujaan dari rakyat jelata serta runtuhnya gairah asmara sang penguasa wanita yang telah meletakkan mahkota kedaulatan Galuh di bawah undakan kakinya.
Obsesi yang sakit itu kian hari kian melumat nalar sehatnya melintasi batas kewajaran manusia biasa. Kamandaka mulai mengunci diri dari kerasnya realitas pemerintahan, memilih untuk menghabiskan waktu di dalam ruang tengah paviliunnya yang pekat oleh aroma remasan kelopak bunga kenanga dan minyak gaib. Ia mulai terobsesi mencari ramuan awet muda dari seluruh penjuru negeri Sunda, menyebarkan mata-mata telik sandi istana hingga ke wilayah pesisir terjauh hanya untuk berburu kabar tentang ramuan herbal penolak layu. Rasa narsistiknya yang haus akan keabadian mutlak telah merubah tiket emas kejayaannya menjadi sebuah penjara batin yang pengap, dilingkupi rasa curiga ganjil bahwa hukum alam sedang mengintai di balik setiap tarikan napas bidang bidangnya.