KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #31

BAB 31: Kegelisahan yang Menular

Suarsih menyadari perubahan drastis pada diri tuannya sejak malam rapat agung yang menghancurkan martabat militer Kamandaka di balairung istana. Prabu Anom yang dulu selalu ceria dan penuh gairah saat mematut diri di depan jajaran cermin perunggu besar, kini lebih sering melamun dengan pandangan mata yang kosong serta rahang tegap yang mengatup rapat menahan geram amarah. Kamandaka menghabiskan waktu berjam-jam duduk mematung di sudut dipan sutra paviliun pribadinya yang pengap, dilingkupi aroma dupa cendana yang berbaur ganjil dengan wewangian mawar tubuh bidangnya yang kian hari kian memancarkan keharuman mistis yang menusuk ulu hati. Kecemasan gila yang membakar batin sang mantan anak petani kopi itu seolah-olah menciptakan pusaran hawa dingin pekat yang menular, mengunci kenyamanan seluruh penghuni paviliun termasuk kedua orang tuanya yang kini hidup didera ketakutan ganjil di kamar sebelah.

"Ada apa, Prabu? Apakah ada hal gaib yang kurang memuaskan hati Anda di dalam kompleks keraton yang megah ini?" tanya Suarsih dengan nada suara teramat sangat lembut dan santun, memecah kesunyian malam paviliun sembari menaruh sebuah mangkuk kuningan besar berisi air mawar hangat untuk basuhan wajah malam di atas meja jati.

Kamandaka tidak langsung menjawab pertanyaan pelayan pribadinya. Ia mendadak bangkit berdiri dengan gerakan tubuh tegap yang secepat kilat ksatria tersembunyi, lalu mencengkeram erat kedua pergelangan lengan kurus Suarsih menggunakan jemari tangannya yang halus namun memiliki kekuatan yang luar biasa besar menindas batin. Sepasang matanya yang tajam dan mematikan pesona tampilannya menatap lurus ke dalam relung indera penglihatan Suarsih, memancarkan kilat keputusasaan gila yang melintasi batas nalar sehat manusia biasa. Tubuh tegap bidangnya yang hanya berbalut kain samping sutra halus bergetar hebat, memancarkan wibawa ksatria sejati yang telah sepenuhnya diracuni oleh narsisme akut yang sakit bernanah di dalam lubang dadanya.

"Lihatlah orang-orang kerdil di luar sana, Suarsih! Lihatlah Patih Bimaraksa dan barisan menteri tua bangka yang rambutnya memutih itu!" teriak Kamandaka dengan nada suara parau yang rendah namun bergaung seram membelah keheningan sunyi ruangan paviliun tinggal mereka. "Mereka semua sedang berjalan bungkuk menuju kebinasaan, membusuk secara nyata seiring bergulirnya waktu alam! Aku tidak mau berakhir seperti mereka, layu dimakan usia waktu dan hancur di dalam liang lahat yang kotor berlumpur tanah! Wajah tanpa cela dan dada bidang ini adalah tuhan kecil baru bagi bumi Pasundan, aku harus tetap sempurna selamanya tanpa boleh disentuh oleh hukum alam yang kerdil itu!"

Lihat selengkapnya