KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #32

BAB 32: Ikatan Sukma yang Sempurna

Malam penutupan seluruh rangkaian perayaan penobatan dan penutupan pesta pernikahan agung akhirnya tiba dengan udara udara yang teramat sangat sunyi. Kesunyian itu terasa begitu ganjil, pekat, dan dingin, seolah-olah seluruh alam semesta di sekeliling pusat keraton utama sedang menahan napas dalam-dalam, bersiap menyaksikan dosa besar paling ekstrem yang akan diperbuat oleh seorang anak manusia biasa. Riuh rendah bising suara instrumen gamelan gaib dan gelak tawa para penak borjuis di balairung istana yang telah berlangsung selama tujuh hari tujuh malam kini telah sepenuhnya padam dilumat kegelapan malam. Kompleks paviliun mewah pribadi telah dikosongkan total dari barisan pelayan wanita dan pasukan pengawal bendo soga, menyisakan kesunyian total yang mencekam jiwa di setiap sudut pelataran batu kelabu.

Kamandaka melangkah perlahan dengan gerakan kaki yang lincah, seringkas macan lapar membelah kepulan kabut tipis malam perbukitan Galuh yang merayap turun menyelimuti taman belakang istana. Langkah tegap bidangnya menuntun tubuh tujuh belas tahunnya menuju ke sebuah titik buta yang terisolasi sunyi pekat, tepat di bawah rindangnya pohon beringin tua raksasa yang akar-akar gantungnya menjuntai seram seumpama jemari mayat kelaparan. Pemuda pesolek dari lereng Sindang Kasih itu hanya mengenakan selembar kain putih halus penutup tubuh bagian bawahnya. Ia membiarkan dada bidang kokoh serta kulit kuning langsat mulusnya terpapar langsung oleh embusan tiupan angin malam yang dingin membeku, menantang takdir luar yang sedang mengintai hidupnya. Di dalam cengkeraman jemari tangan kanannya yang halus, sebilah belati perak kecil berkilat-kilat tajam, memantulkan pendar cahaya obor minyak gantung yang bergoyang seram memahat bayangan panjang di atas lantai tanah basah. Tidak ada seulas pun rasa takut atau ragu di dalam lubang dadanya; yang tersisa hanyalah ambisi kesombongan yang kian sakit akut untuk menantang sang waktu alam.

Kamandaka berdiri tegak lurus seimbang sempurna di depan sebuah altar batu kuno yang permukaannya telah dipenuhi lumut hitam dan noda-noda gaib peninggalan ritual tumbal masa lalu. Ia menundukkan wajah rupawannya perlahan, menatap lurus ke arah pantulan bayangan dirinya sendiri di atas permukaan air hitam pekat yang memenuhi mangkuk kuningan besar di atas altar batu tersebut. Di bawah siraman pendar obor yang meredup, ketampanan wajah tanpa celanya tampak bersinar mematikan pesona tampilannya, memicu luapan emosi takabur yang kian hari kian akut meracuni seluruh relung kesadarannya.

"Aku tidak akan pernah membiarkan sang waktu merusak mahakarya suci ini," ucap Kamandaka lirih dengan nada suara merdu beralun sangat tenang namun sarat akan keangkuhan ksatria sejati yang menolak kalah dari hukum kelayuan fisik.

Kegilaan narsismenya kini telah resmi mencapai titik tertinggi yang tidak bisa lagi diterima oleh nalar sehat manusia biasa di seantero negeri Sunda. Ia merasa tubuh bidang dan otot lengannya yang kokoh memiliki derajat keindahan yang jauh lebih tinggi melintasi kemuliaan para dewa khayangan, sebuah kesempurnaan mutlak yang teramat sangat pantas untuk mendapatkan tiket emas keabadian fisik yang tidak akan pernah dimiliki oleh raja atau pangeran menak mana pun di seantero tanah Pasundan. Di langit luar, seiring dengan selesainya kalimat keangkuhan batin tersebut, segumpal awan hitam pekat setebal jelaga mulai menggulung kencang, bergerak menutup sisa pendar rembulan mati hingga menenggelamkan seisi hutan terlarang istana ke dalam kegelapan total yang pengap.

Tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam pikirannya yang telah buta oleh kekuasaan mutlak, Kamandaka mengangkat tinggi-tinggi belati perak di tangan kanannya. Dengan satu gerakan tangan yang teramat sangat cepat, mantap, dan anggun menawan seumpama gerakan tari tradisi, ia menghantamkan mata pisau tajam itu, mengiris telapak tangan kirinya sendiri secara mendalam melintasi pembuluh darah sarafnya.

Lihat selengkapnya