KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #33

BAB 33: Lenyapnya Sang Bayangan Kegelapan

Bersamaan dengan selesainya ikatan sukma terkutuk yang melintasi batas nalar manusia fana tersebut, sebilah kilatan petir terakhir yang berwarna kebiruan mendadak menyambar dengan suara menggelegar dahsyat yang memekakkan telinga laksana bumi sedang dibongkar paksa dari porosnya. Hantaman energi spiritual tingkat tinggi itu seketika memercikkan bara api gaib yang membakar ujung-ujung akar gantung pohon beringin tua raksasa, menciptakan kepulan asap belerang yang menyesakkan rongga dada. Detik itu juga, gulungan kabut hitam pekat setebal jelaga beserta sosok bermata merah menyala tanpa rupa yang memancarkan aura kematian pekat tersebut seketika lenyap, ditiup pergi oleh embusan angin badai hutan terlarang yang perlahan-lahan mulai mereda volumenya.

Suasana di sekeliling taman belakang paviliun mewah kembali tenggelam ke dalam kesunutan total yang teramat sangat sunyi senyap dan mencekam jiwa. Dinginnya hawa malam perbukitan Galuh kini terasa berkali-kali lipat lebih mencekam, menyisakan Kamandaka yang terduduk lemas bersila di atas tanah merah yang basah berselimut sisa-sisa kelopak mawar ritual sore tadi. Dada bidangnya yang kokoh naik turun dengan napas yang memburu hebat terengah-engah laksana mangsa yang baru saja lolos dari cengkeraman kuku besi iblis hulu sungai purba. Sekujur tubuh tegap polosnya basah kuyup oleh keringat dingin gaib yang merusak sisa keharuman lulur kenanga di kulit kuning langsatnya yang menawan menolak noda.

Tepat di hadapan indera penglihatannya, di atas permukaan altar batu kuno yang telah lumutan, buah maja hitam berrutkan darah itu kini telah berhenti menyala terang benderang. Warna kulitnya kembali menjadi hijau legam berlendir seukuran kepala manusia biasa, menyembunyikan kepekatan teluh hitam yang baru saja mengunci sel-sel kulit rahang kokohnya. Namun, meskipun cahayanya telah lumat total oleh kegelapan malam, detak halus yang ritmis dari dalam jantung buah maja gaib tersebut secara mistis masih bisa dirasakan dan didengar oleh Kamandaka langsung di dalam rongga dadanya sendiri. Janji iblis telah sah mengikat takdirnya secara linear melintasi dimensi ruang waktu manusia bumi Pasundan.

Kamandaka memaksakan tubuh bidangnya untuk bangkit berdiri menggunakan sisa kekuatan otot lengan dan pundaknya yang masih gemetar hebat menahan sisa rasa linu jarum es gaib. Dengan gerakan tangan yang teramat sangat telaten, pelan, dan penuh keangkuhan narsistik gila yang kian sakit akut, ia melangkah maju mengambil buah maja berdenyut tersebut dari atas permukaan batu altar dengan sangat hati-hati. Keharuman mistis aroma mawar tubuh bidangnya kembali menguar pekat membelah hawa anyir besi berkarat sisa ritual pembantaian sukma semalam, seolah menegaskan kembali wibawa ksatria sejati yang menolak layu oleh hukum alam semesta fana.

Lihat selengkapnya