Keesokan paginya, matahari terbit dengan perlahan, memancarkan sinar hangat yang berwarna jingga keemasan di atas atap hunian paviliun mewah dan megahnya menara kompleks keraton Galuh. Udara pagi yang biasanya dilingkupi oleh kabut tebal perbukitan kini terasa ganjil, seolah-olah seluruh udara alam semesta sedang menyembunyikan sisa-sisa badai gaib yang semalam melumat habis kesucian taman belakang istana. Kamandaka terbangun dari tidurnya di atas kasur sutra empuk paviliun pribadi dengan perasaan tubuh yang jauh lebih segar, ringan, dan berkali-kali lipat lebih bertenaga daripada hari-hari sebelumnya sepanjang hidupnya.
Ia langsung melompat dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun, tubuh tegapnya bergerak seringkas macan lapar yang baru saja mendapatkan mangsa. Kamandaka berlari dengan gerakan kaki yang lincah anggun menembus tirai keemasan, menuju tepat ke depan cermin emas besar milik kerajaan yang terpasang kokoh di tiang paviliun tinggalnya. Di dalam pantulan cermin jernih berkilat-kilat tersebut, indera penglihatannya menangis menyaksikan sebuah mahakarya baru yang melintasi batas nalar sehat manusia biasa. Wajah rupawannya tampak jauh lebih bersinar benderang menambah pesona tampilannya; kulit kuning langsat halus di rahang kokohnya tampak sekencang kelopak kenanga mekar seolah menolak debu, dan sepasang matanya memancarkan daya pikat baru yang teramat sangat pekat menyengat jiwa.
Sihir ketampanan fisiknya kini telah resmi dikunci oleh keabadian gaib dari sebutir buah maja berdenyut yang semalam ia sembunyikan di dalam kotak kayu cendana lapis gembok besi di bawah dipan tempat tidurnya. Tidak ada lagi sisa trauma ketakutan gila akan keriput, bintik hitam, atau visi pembusukan belatung mimpi buruk malam Selasa Kliwon di dalam lubang dadanya; ia kini telah resmi bertransformasi menjadi pemilik ketampanan yang abadi, satria Arjuna baru yang berhasil mengakali maut takdir dunia manusia fana. Kamandaka mengusap permukaan kulit dadanya yang polos tanpa pakaian selembar benang pun, tersenyum penuh kemenangan sejati menikmati pancaran kesegaran sel kulitnya yang putih bersih mulus, bebas dari bulu-bulu halus karena selalu ia rawat telaten sebelum melangkah keluar menjemput kejayaan kekuasaannya.
Ketika matahari mulai merangkak tinggi di atas pucuk-pohon cempaka liar, Kamandaka mengenakan pakaian kebesaran rajanya, menyelipkan keris pusaka Kyai Naga Liman berhulu emas murni di pinggang tegapnya, lalu melangkah anggun keluar menembus selasar menuju ke dalam balairung agung istana untuk menemui Sang Ratu Penguasa. Begitu langkah tegap bidangnya melintasi ambang pintu pintu masuk utama balairung agung yang pengap ditiup asap dupa cendana, seluruh ruangan yang awalnya bising padat oleh bisik-bisik rendah penuh intrik politik para menteri mendadak hening seketika mengunci nalar sehat puluhan pasang mata manusia yang sedang berjejal mengantre persidangan khusus.