Bulan demi bulan berganti rupa dengan cepat, menggulung lembaran waktu alam secara langsung, dan nama Prabu Anom Kamandaka kian hari kian melegenda dahsyat ke seluruh penjuru Kerajaan Sunda. Sosoknya dipuja-puja oleh kasta borjuis hingga rakyat jelata sebagai ksatria tertampan dan pemilik tubuh paling sempurna yang pernah dilahirkan ke atas bumi Pasundan melintasi batas nalar kemanusiaan. Setiap kali ia melangkah memimpin parade pasukan militer berkuda di sepanjang jalanan utama alun-alun kota raja, aktivitas pemerintahan mendadak lumpuh total seketika. Ribuan manusia akan berjejal-jejal di pinggir pagar, saling dorong demi bisa mencuri pandang ke arah guratan rahang kokohnya yang putih bersih mulus menolak noda debu arena. Mereka melemparkan jutaan kelopak bunga mawar segar ke udara hingga memenuhi udara dengan keharuman wangi mawar sejati, mengagungkan nama Kamandaka seumpama sosok batara asmara yang sengaja turun untuk merengkuh kedaulatan takhta dunia.
Kamandaka menikmati setiap detik dari pusaran pemujaan lahiriah tersebut dengan keangkuhan narsistik yang kian hari kian mengakar sangat dalam di dalam relung jiwanya yang takabur. Ia merasa perjanjian gaib yang ia lakukan di bawah rimbunnya pohon beringin tua belakang paviliun malam Selasa Kliwon waktu lalu adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil sepanjang lembaran hidupnya. Waktu benar-benar menolak menyentuhnya; ketika Sang Ratu Penguasa kian hari kian menampakkan gurat-gurat keriput halus di kelopak matanya yang menua, tubuh bidang tujuh belas tahun milik Kamandaka justru memancarkan kemilau kuning langsat yang kian bersinar terang benderang. Kulit wajah rupawannya tetap sekencang kelopak kenanga mekar, bebas dari bulu-bulu halus dan kapalan kasar kasta pekerja, membuktikan bahwa janji iblis pemilik buah maja berdenyut telah bekerja dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikit pun.
Namun, demi menjaga kestabilan tiket emas keabadian fisiknya dari ancaman intrik politik para menteri yang kian hari kian meruncing tajam, Kamandaka menempuh sebuah langkah pengamanan spiritual yang jauh lebih ekstrem dan berbahaya. Di bawah bangunan paviliun megah pribadinya yang terbuat dari papan kayu jati berukir motif awan mendung lapis perak murni, Kamandaka memerintahkan beberapa budak belian dari wilayah pesisir untuk menggali sebuah ruangan bawah tanah rahasia secara senyap. Penggalian itu dilakukan membelah fondasi tanah dalam hitungan minggu, dengan pintu masuk rahasia yang disembunyikan secara sangat telaten di balik lemari pakaian besar berukir naga di dalam kamar tidur utamanya. Setelah proses pengerjaan selesai, Kamandaka memerintahkan para pengawal untuk melenyapkan para budak tersebut agar rahasia tentang kamar bawah tanah itu tetap terkunci mati dari pendengaran telik sandi Patih Bimaraksa.