Malam selalu membawa kebenaran yang mengerikan ke dalam kompleks Keraton Galuh. Ketika kegelapan bergulir menyelimuti paviliun mewah berukir motif awan mendung lapis perak , sunyi yang turun bukan lagi ketenangan, melainkan kecemasan yang mengunci mati. Di atas permukaan bumi, Kamandaka adalah batara yang dipuja. Namun, di bawah pondasi tanah yang ia pijak, sebuah rahasia busuk terus berdenyut, menuntut bayaran yang tidak pernah bisa dihentikan. Keabadian fisiknya bukanlah hadiah cuma-cuma, melainkan rantai tak kasat mata yang menjalar dari dasar Telaga Gaib, mengikat sukmanya secara linear menembus ratusan tahun masa depan.
Kamandaka berdiri di dalam kamar tidur utamanya. Ia baru saja menyelesaikan pawai militer sore tadi, di mana ribuan pasang mata kembali bersorak histeris memuja guratan rahang kokohnya. Namun, begitu pintu sutra kamarnya tertutup rapat, kehangatan dunia fana itu menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah sensasi kehampaan dingin yang mulai merayap dari pergelangan tangan kirinya. Rasa dingin itu adalah alarm gaib. Isyarat mutlak bahwa sang buah terkutuk di bawah sana sudah kembali kelaparan.
Dengan gerakan yang teramat sangat telaten, Kamandaka melangkah mendekati lemari pakaian besar berukir naga emas. Sepasang matanya yang tajam melirik ke sekeliling bilik, memastikan tidak ada satu pun bayangan yang mengintai. Tangannya yang putih bersih meraba ukiran mata naga pada kayu jati tersebut, menekan sebuah pasak tersembunyi hingga bagian belakang lemari bergeser perlahan tanpa suara. Sebuah celah gelap menganga, menampakkan undakan tangga yang menurun lurus ke dalam rahim bumi.
Kamandaka melangkah turun, membiarkan jubah kebesaran rajanya terseret di atas lantai batu yang dingin. Setiap undakan membawanya semakin jauh dari kemegahan istana, masuk ke dalam ceruk ruang hampa spiritual yang pengap. udara di dalam kamar rahasia bawah tanah itu menyengat tajam indera penciuman dengan kombinasi aroma anyir besi berkarat dan asap dupa belerang yang mematikan nalar sehat manusia biasa. Di tengah ruangan yang hanya diterangi sebatang lilin hitam berpendarkan cahaya keunguan ganjil, sebuah meja batu kecil berkaki marmer berdiri kokoh. Di atasnya, kotak kayu cendana berlapis beludru merah pekat tampak diam membisu di bawah lilitan gembok besi tempa gaib.
Kamandaka mendekat, meraba permukaan kotak tersebut dengan kepuasan narsistik yang kian hari kian akut. "Waktunya makan, Jantung Neraka," bisiknya lirih. Suaranya beralun merdu namun sedingin nisan kuburan.
Ia mencabut gembok mistis itu, lalu membuka penutup kotak cendana secara perlahan. Seketika, aroma anyir yang teramat sangat pekat menyeruak bebas, mengusir sisa wewangian mawar alami dari tubuh bidang Kamandaka. Di dalam wadah tersebut, buah maja hitam beruratkan darah itu tampak bergoyang pelan. Wujudnya yang seukuran kepala manusia kini dipenuhi guratan urat keunguan yang menonjol liar.
Deg... Deg... Deg...
Bunyi detak jantung monster yang kelaparan bergaung konsisten dari dalam buah maja, bergetar selaras dengan debaran kaku di dalam ulu hati Kamandaka sendiri. Buah terkutuk itu seolah bisa merasakan kehadiran sang pemilik sukma, denyutannya kian menggila seiring hawa dingin yang memancar kuat dari pori-pori kulitnya yang berlendir.
Kamandaka melepaskan kain sutra atasannya, membiarkan dada bidang kokoh dan kulit kuning langsatnya terpapar pendar ungu lilin hitam. Ia mengambil sebilah pisau kecil khusus bersarung perak dari atas meja batu. Tanpa ada keraguan atau ekspresi ngeri sedikit pun di wajah rupawannya, ia mengiris ujung jari telunjuk kirinya secara mendalam.
Sret!
Cairan merah pekat sewarna buah kopi ranum Sindang Kasih langsung mengalir deras. Kamandaka mengarahkan jarinya tepat di atas buah maja hitam, membiarkan tetesan darah segarnya jatuh berurutan di atas permukaan kulit buah yang ganjil tersebut.
Begitu darah menyentuh kulit berlendir itu, sebuah fenomena gaib terjadi. Kulit buah maja menghisap cairan hidup Kamandaka dalam hitungan detik, seumpama tanah kering meminum air hujan. Urat-urat keunguan di sekujur tubuh buah mendadak menyala terang benderang seumpama bara api yang membakar kegelapan kamar bawah tanah. Bersamaan dengan itu, sebuah hawa dingin pekat yang luar biasa dahsyat meledak dari dalam kotak cendana, merayap cepat menyusuri ujung jari Kamandaka, menjalar menembus pembuluh darah lengan, hingga mengunci seluruh urat syaraf di dadanya.