"Apakah kau mengira ramuan akar hutan ini bisa mengembalikan waktu yang telah merenggut kemudaanmu, Gusti Ratu?"
Suara Kamandaka beralun teramat merdu, sehalus gesekan sutra, namun menyimpan hawa dingin yang menusuk lurus ke ulu hati. Ia berdiri di sisi ranjang kebesaran yang berselimut kain beludru emas, menatap sesosok wanita yang kini tampak begitu ringkih dan layu. Aroma mawar pekat dari rambut hitam legam Kamandaka yang menolak menua menguar kuat, bertabrakan dengan bau anyir minyak obat-obatan dan uap belerang dari tungku ratusan dupa yang sengaja dinyalakan para tabib keraton.
Sang Ratu Penguasa, penguasa tertinggi seantero tanah Pasundan yang dulu begitu digdaya, kini hanya bisa terbaring tak berdaya. Serangan wabah demam yang melanda ibu kota Galuh, berpadu dengan usia tua yang menggerogoti fisiknya tanpa ampun, telah melumat habis sisa kejayaan sang wanita nomor satu. Kulit wajah Ratu yang dulu kencang tersirep asmara kini tampak kusam, dipenuhi gurat keriput mendalam yang menyerupai retakan tanah kering di musim kemarau.
"Kamandaka..." Ratu berbisik parau, jemarinya yang kurus kering dan sedingin es perbukitan bergerak lemah, mencoba menggapai pergelangan tangan kiri suaminya. "Mendekatlah... biarkan aku menghirup keharuman mawar tubuhmu... untuk terakhir kali."
Kamandaka mengunci seulas senyuman santun luar di bibir tipisnya. Ia duduk di pinggir ranjang, membiarkan jemari keriput istrinya menggenggam telapak tangannya yang putih bersih mulus tanpa noda. Sepasang mata tajam milik Kamandaka menatap lurus ke dalam netra Ratu yang mulai meredup dilapisi selaput maut. Namun, di balik tatapan penuh perhatian tersebut, relung batin Kamandaka sebenarnya hanya dipenuhi oleh kehampaan spiritual yang teramat pekat.
Sihir dari buah maja hitam yang tertanam di kamar rahasia bawah tanahnya—yang semalam baru saja ia beri makan dengan tetesan darah segarnya—telah benar-benar membekukan getaran emosi manusianya. Ia tidak merasakan duka, tidak pula merasakan iba. Baginya, pemandangan wanita tua yang sedang menjemput ajal di hadapannya ini hanyalah sebuah kepastian hukum alam semesta yang kerdil. Hukum yang berhasil ia kelabui berkat perjanjian darah malam Selasa Kliwon waktu lalu.
"Hamba berada di sini, Gusti Ratu," jawab Kamandaka dengan nada suara yang tertata sangat tenang, membelai rambut memutih sang Ratu menggunakan tangan kanannya secara telaten. "Seluruh tabib terbaik dari wilayah pesisir telah hamba kumpulkan di balairung agung. Jangan biarkan demam ini meruntuhkan keteguhan batin Anda."
Ratu menggeleng lemah, sudut matanya menitikkan air mata kegetiran. Ia mendongak, menyaksikan wajah Kamandaka yang anehnya masih tetap terlihat sangat tampan, kencang, dan bertenaga seumpama pemuda tujuh belas tahun, persis seperti pertama kali ia datang dari lereng kopi Sindang Kasih. Keabadian fisik Kamandaka yang menolak rusak oleh waktu kini menjadi kontras yang sangat kejam di samping tubuh Ratu yang sedang membusuk perlahan.
"Waktuku sudah habis, Prabu Anom..." napas Ratu kian tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan rongga paru-paru yang mendadak retak parah menolak untuk mengembang sempurna. "Ketampananmu... adalah kutukan paling indah yang pernah kulihat. Jaga kerajaan ini... Kamandaka... Patih Bimaraksa dan barisan menteri... mereka sedang menanti kerapuhan kita... jangan biarkan mereka merebut takhta leluhur..."