Masa perkabungan atas mangkatnya Sang Ratu telah resmi berakhir, namun bau anyir dupa pembakaran mayat seolah enggan beranjak dari suasana Kerajaan Galuh. Seiring fajar yang menyembul dari balik perbukitan hulu lereng, seluruh penjuru kota raja mendadak bising oleh tabuhan bende agung dan genderang perang. Hari yang dinantikan oleh ambisi gila sebutir mutiara dari Sindang Kasih akhirnya tiba. Hari di mana hukum kedaulatan lama sepenuhnya lumat, digantikan oleh takhta absolut seorang pemuda tujuh belas tahun yang berhasil mengakali maut.
Kamandaka berdiri tegap lurus seimbang sempurna di atas balkon tinggi balairung agung istana. Sinar matahari pagi yang berwarna jingga keemasan membasuh sekujur tubuh bidang kokohnya, menciptakan pantulan cahaya keperakan yang ganjil dari balik jubah kebesaran corak paksi naga liman baru yang dikenakannya. Di atas dahi halusnya yang putih bersih mulus tanpa noda debu, sepasang tangan keriput milik Resi Agung istana bergerak perlahan, menurunkan mahkota emas murni bertatahkan ratna mutu manikam. Begitu logam suci leluhur itu tersemat kokoh di kepala tegapnya, gemuruh sorak-sorai dari ribuan kawula dan kaum menak yang memadati alun-alun utama langsung meledak laksana guntur yang membelah cakrawala.
Dari atas ketinggian balkon, Kamandaka melemparkan seulas senyuman sinis penuh kemenangan sejati ke arah lautan manusia yang sedang bersujud di bawah kakinya. Narsismenya yang sakit akut kini telah resmi mencapai puncak khayangan tertinggi melintasi batas nalar sehat kemanusiaan. Ia meraba permukaan mahkota emas di kepalanya, lalu melirik ke bawah dipan paviliun pribadinya di kejauhan, tempat kamar rahasia bawah tanah menyembunyikan kotak kayu cendana berisi buah maja hitam beruratkan darah. Keabadian fisik yang ia beli dengan sumpah darah malam Selasa Kliwon waktu lalu terbukti nyata; ia kini bukan lagi sekadar Raja Pendamping yang berlindung di balik selimut sutra Ratu yang telah membusuk. Ia adalah penguasa tunggal seantero tanah Pasundan.
"Lihatlah dunia yang kerdil ini, Suarsih," bisik Kamandaka tanpa menoleh, suaranya beralun merdu namun sedingin es perbukitan yang menusuk ulu hati. "Mereka bersujud bukan hanya karena hukum mahkota ini, melainkan karena mereka tidak memiliki kekuatan nalar untuk menolak pesona ketampanan fisikku. Wajah tanpa cela ini adalah tuhan kecil baru bagi bumi Galuh."
Suarsih yang berdiri mematung dua langkah di belakang punggung tuanya tidak berani mendongakkan wajah pucat layunya sedikit pun. Kedua tangan wanita paruh baya itu mencengkeram erat sebuah nampan kuningan berisi air basuhan mawar segar, sementara sepasang matanya menangis dalam diam menahan duka batin yang teramat sangat mendalam. Indera spiritualnya yang tajam sejak malam perjanjian darah di bawah beringin sepuh kembali menangis, merasakan adanya pusaran hawa dingin pekat yang merembes keluar dari balik sela-sela pakaian kebesaran Kamandaka. Detak jantung tuanya kini telah sepenuhnya selaras dengan detak kaku sebutir buah terkutuk di dalam tanah pondasi, mengikis habis sisa-sisa rasa empati manusianya.
"Prabu Anom... hamba memohon dengan sangat, dekaplah kembali sisa rasa santun Anda," bisik Suarsih dengan nada suara teramat sangat lembut dan gemetar tercekat di tenggorokan. "Pujian ribuan manusia di alun-alun ini adalah panggung sandiwara yang semu. Hamba melihat bayangan parang dan gada besi para ksatria istana kian hari kian mengepung langkah kaki tegap Anda dari balik pilar ."
Kamandaka mengeluarkan sebuah dendaan meremehkan yang teramat sangat dingin menusuk tulang, mengabaikan peringatan pelayan pribadinya dengan keangkuhan ksatria sejati yang telah buta oleh kekuasaan mutlak. "Parang dan gada besi mereka hanyalah mainan anak-anak kerdil yang akan patah sebelum menyentuh kulit kuning langsatku, Suarsih," balas Kamandaka sembari menyelipkan keris pusaka Kyai Naga Liman berhulu emas murni di pinggang tegapnya. "Hari ini seluruh negeri Sunda telah resmi menjadi pertunjukan pemujaan terbesarku, dan siapa saja yang berani mengutuk jalannya pertunjukan ini akan langsung kuhancurkan menjadi tumbal pondasi takhtaku."