KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi

Langit Berawan
Chapter #39

BAB 39: Isolasi Batin di Atas Singgasana Emas

Kejayaan mutlak yang diraih dengan tangan besi ternyata memiliki dinding pembatas yang teramat tebal dan sunyi. Setelah Kamandaka menjebloskan Ki Demang Koswara ke dalam penjara bawah tanah dan membungkam barisan menteri sepuh, suasana di sekeliling kompleks Keraton Galuh mendadak berubah rupa. Paviliun megah yang dinding-dinding kayunya diukir motif awan mendung lapis perak murni itu kini tidak lagi memancarkan kemegahan yang hangat, melainkan menjelma menjadi sebuah kotak es raksasa yang pengap dan mencekam jiwa. Ratusan prajurit bersenjata tombak baja lengkap memang berdiri kaku menjaga setiap sudut pelataran batu kelabu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Ketakutan akan amarah sang Prabu Anom baru telah resmi mengunci mati kegembiraan dari tanah istana.

Di malam hari, ketika bisingnya genderang upacara penobatan telah sepenuhnya padam dilumat kegelapan malam, Kamandaka lebih sering menghabiskan waktu seorang diri. Ia duduk tegak lurus seimbang sempurna di atas singgasana emas balairung agung yang kosong melompong. Pendar cahaya sebatang lilin lebah yang ditiup hawa dingin perbukitan memahat bayangan tubuh tegap bidangnya begitu panjang di atas ubin marmer, menciptakan kesan estetika gotik yang ganjil. Di pangkuannya, sebilah cermin perunggu rahasia yang telah retak di bagian tengah akibat pengaruh sumpah darah masa lalu dipegangnya dengan jemari yang halus. Kamandaka menatap pantulan wajah rupawannya sendiri dengan sepasang mata tajam yang kian hari kian kehilangan binar kehidupan manusianya.

"Mengapa seluruh tempat bernaung ini terasa begitu dingin, Suarsih?" tanya Kamandaka lirih, memutus keheningan sunyi ruangan tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan cermin perunggu. Suaranya beralun merdu, namun tersisa getaran kehampaan batin yang teramat sangat mendalam. "Ribuan kawula bersujud memuja kemurnian sel kulitku di alun-alun kemarin subuh, namun di dalam ruangan ini, aku merasa seolah sedang duduk di atas sebuah batu nisan yang beku."

Suarsih yang sejak tadi berdiri mematung di balik bayangan pilar besar melangkah maju dua tindak secara perlahan. Wanita tua paruh baya itu mendekap erat sebuah mangkuk kuningan kosong di dadanya, menundukkan wajah layunya sedalam mungkin menatap ubin basah yang masih berbau anyir dupa istana.

"Keabadian fisik yang Anda kunci di bawah pondasi tanah malam Selasa Kliwon waktu lalu telah memisahkan sukma Anda dari takdir kehidupan manusia biasa, Prabu Anom," jawab Suarsih dengan nada suara teramat sangat lembut, namun kata-katanya menusuk perih telak ke dalam lubang dada tuannya. "Manusia biasa dilahirkan untuk menua, layu, dan akhirnya pulang memeluk tanah bumi Pasundan bersama orang-orang tercinta mereka. Namun Anda... Anda telah resmi menjadi makhluk abadi yang menolak hukum alam semesta, dan harga dari tiket emas itu adalah isolasi batin yang tidak akan pernah bisa diringankan oleh takhta emas mana pun."

Kamandaka mencengkeram erat tepi bingkai cermin perunggunya hingga logam murni tersebut mengeluarkan bunyi berderit halus di bawah tekanan otot lengannya yang kokoh. Rahang kokohnya mengatup rapat memancarkan keangkuhan narsistik gila yang kian sakit akut meracuni seluruh sistem berpikir rasionalnya.

"Jangan berani-berani menyamakan martabat suci tubuh bidangku ini dengan kasta orang-orang kerdil di luar sana, Pelayan Tua!" bentak Kamandaka dengan nada suara parau yang rendah namun bergaung seram membelah kesunyian malam paviliun pribadinya. Ia bangkit berdiri dari singgasananya dengan gerakan tubuh tegap yang secepat kilat ksatria tersembunyi, membiarkan jubah kebesaran corak paksi naga limannya bergerak anggun ditiup angin malam yang merembes masuk dari celah ventilasi. "Patih Bimaraksa dan para menteri tua bangka itu sedang berjalan bungkuk membusuk digerogoti oleh usia waktu yang kusam, sedangkan kulit kuning langsatku tetap sekencang kelopak kenanga mekar seumur hidup takdir bumi! Aku adalah batara baru bagi negeri Sunda, aku tidak butuh kehangatan emosi manusia yang lemah dan menjijikkan itu!"

Suarsih tidak langsung menjawab amarah tuannya. Air mata kegetiran spiritualnya kembali menetes bebas membasahi ujung kain kebaya usangnya, meratapi kegilaan takabur Kamandaka yang kini telah sepenuhnya buta oleh kekuasaan mutlak.

Lihat selengkapnya