Gelombang kesunyian yang mengunci batin Kamandaka di atas singgasana emas mendadak pecah oleh deru kepanikan yang merayap dari wilayah perbatasan barat. Di tengah ketidakstabilan politik internal Galuh akibat kepemimpinan tangan besi sang raja muda, takdir luar yang selalu ia tantang kini datang dalam wujud yang jauh lebih nyata dan berdarah. Kabar buruk bertiup kencang bersama angin malam perbukitan yang membawa aroma kepunahan; pasukan militer dari kerajaan tetangga yang kuat, besar, dan kejam dikabarkan telah mulai bergerak maju melakukan invasi besar-besaran. Mereka membakar desa-desa perbatasan di kaki gunung Sunda, meratakan lumbung-lumbung padi, dan membantai habis para prajurit jaga tanpa ampun, menyisakan lautan api yang menjalar cepat menuju jantung ibu kota Galuh.
Kamandaka berdiri tegap lurus seimbang sempurna di selasar paviliun pribadinya yang pengap ditiup asap dupa cendana. Tangannya yang putih bersih mulus tanpa noda getah meremas kuat pagar , sementara sepasang mata tajamnya menatap lurus ke arah langit barat yang mulai merona merah akibat pendar kebakaran di kejauhan. Keharuman mistis aroma mawar dari rambut hitam legamnya menguar pekat membelah hawa malam, seolah mencoba mengusir bau belerang perang yang mulai mengotori udara bersih keraton. Namun, sensasi kehampaan dingin seumpama es puncak gunung di pergelangan tangan kirinya kembali berdenyut kaku, memancarkan getaran ganjil yang selaras dengan detak jantung sebutir buah maja hitam di dalam kamar rahasia bawah tanahnya.
"Apakah kau mendengar gemuruh tapak kuda para bajingan barat itu, Suarsih?" tanya Kamandaka dengan nada suara merdu beralun sangat tenang, namun tersisip rahang kokoh yang mengatup keras menahan geram amarah narsistik yang kian hari kian sakit akut. "Mereka mengira dengan membawa ribuan parang dan gada besi karat, mereka bisa merusak keindahan estetika teater kekuasaanku di istana ini."
Suarsih yang sejak tadi berdiri mematung di balik bayangan pintu sutra melangkah maju dengan gerakan tubuh ringkih yang gemetar hebat. Wanita tua paruh baya itu mendekap erat kotak kayu cendana kosong di dadanya, sepasang mata pucat layunya menangis menatap punggung tegap bidang tuanya yang masih berbalut jubah kebesaran corak paksi naga liman baru.
"Hamba mendengar jeritan para kawula di kaki gunung, Prabu Anom," jawab Suarsih dengan suara tercekat menahan duka batin yang teramat sangat mendalam. "Serangan militer dari kerajaan tetangga ini bukanlah sebutir kerikil kecil yang bisa Anda bungkam dengan dinding batu penjara sebagaimana Ki Demang Koswara kemarin siang. Jika lini pertahanan Galuh runtuh, maka seluruh tempat bernaung kemegahan ini akan berubah menjadi kuburan hidup yang pengap melintasi ratusan tahun."
Kamandaka memutar tubuh bidang tujuh belas tahunnya dengan gerakan kaki yang lincah anggun secepat kilat ksatria tersembunyi, menatap lurus ke dalam relung indera penglihatan pelayan pribadinya dari jarak dekat dengan sorot mata menindas nalar sehat.
"Jangan berani-berani meniupkan ketakutan kerdilmu di depan wajah tanpa celaku ini, Pelayan Tua!" bentak Kamandaka penuh keangkuhan ksatria sejati yang telah buta oleh kekuasaan mutlak. "Raga indah yang telah dikunci oleh keabadian gaib buah maja tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh pasukan militer mana pun di bumi Pasundan! Perintahkan Patih Bimaraksa hari ini juga untuk menggerakkan seluruh barisan panglima perang berkuda ke perbatasan barat, seret setiap lelaki kerdil itu ke liang lahat yang kotor berlumpur tanah!"
Namun, Kamandaka sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam barak militer utama yang terletak di sudut alun-alun kota raja, Patih Bimaraksa justru sedang memanfaatkan momen krisis pertahanan nasional ini untuk melancarkan strategi politik berdarah dingin yang paling kejam. Di bawah pendar temaram lampu minyak yang bergoyang ditiup hawa badai, sang menteri pertahanan militer sepuh berdiri tegak di atas sebuah balok kayu besar di hadapan ribuan prajurit dan ksatria gada besi barat yang berkumpul dalam kesunyian yang mencekam jiwa.